Amalia E. Maulana : Setiap Orang Unik dan Punya Jalan Suksesnya Sendiri


Amalia E. Maulana, PhD membahas I-Branding di LP3

(Amalia E. Maulana, PhD membahas I-Branding di LP3)

Personal branding bagi dosen merupakan upaya membangun citra diri yang baik sebagai pendidik terkait diri sendiri sehingga diapresiasi oleh lingkungan. Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Prof. Dr. Agus Suman, DEA menyampaikan hal ini saat membuka Sarasehan “Personal Branding For Lecturer”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa (26/11) di ruang jamuan gedung rektorat. Track record branding yang bagus, menurutnya penting sebagai sarana untuk menjalin kerjasama. “Beberapa institusi ingin bekerjasama dengan lembaga yang track record branding-nya bagus,” kata dia. Karena itu harus dibangun jejaring antar sesama pengajar, sehingga nama individu dan lembaga semakin dikenal dan memperkuat posisi.

Hal senada juga disampaikan Rektor Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito dalam paparannya. “Upaya peningkatan citra telah dilakukan UB,” kata Rektor. Hal ini merupakan salah satu dari empat misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yakni peningkatan kualitas, pemerataan dan pencitraan publik. Dari berbagai upaya tersebut, peningkatan citra telah dicapai UB baik skala nasional maupun internasional sesuai dengan motto Join UB Be The Best. Selain itu, UB juga meraih juara I dalam pelayanan prima dan dari segi kepercayaan masyarakat, menduduki peringkat ketiga peminat tertinggi setelah UGM dan Universitas Padjadjaran.

Prestasi UB sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia, menurut Rektor tidak lepas dari peran dosen. “Peran dosen sangat strategis membawa institutional branding. Institutional branding akan tercapai jika personal branding-nya bagus,” kata Yogi. “Seperti halnya lembaga pendidikan SD, SMP, SMA yang bagus adalah karena gurunya bagus, bukan karena gedung yang megah ataupun laboratorium yang bagus,” tambahnya. Karena kata Yogi, gurulah yang berinteraksi dengan siswa. “Guru itu digugu lan ditiru artinya dipatuhi nasehat dan instruksinya serta menjadi teladan,” ungkap dia.

Pembicara tunggal dalam sarasehan ini adalah Amalia E. Maulana, PhD yang menyampaikan tentang “Building a Strong I-Brand (for University Lecturer)” dan “Step by Step I Branding”. Amalia adalah pemilik ETNOMARK, konsultan marketing etnografi yang berbasis di Jakarta. Ia juga pengajar pada Binus Business School, IPMI Business School dan London School of Public Relations. Alumni PhD dari UNSW Australia ini juga pernah menjadi praktisi marketing pada PT. Frisian Flag Indonesia dan PT. Unilever Indonesia.

Branding adalah aktivitas positif, bukan negatif seperti yang selama ini dilakukan melalui pencitraan semu,” kata Amalia diawal paparannya.  Semua orang menurutnya membutuhkan personal branding. Namun selama ini telah terjadi miskonsepsi bahwa personal branding hanya untuk selebriti, tokoh masyarakat dan CEO Perusahaan. Pekerjaan personal branding lebih diperlukan ketika terjadi gap antara pandangan kita tentang diri kita dengan pandangan orang lain. Melalui aktivitas ini, ungkap Amalia, akan semakin terlihat bahwa setiap orang adalah unik. “Tidak perlu mirroring atau copy paste kesuksesan orang lain karena setiap orang memiliki jalannya masing-masing menuju sukses,” kata dia.

Untuk skala kecil pada lingkup individu, branding lebih dikenal dengan I-Branding. Sementara untuk tokoh ataupun selebriti yang lebih massive, lebih merujuk pada personal branding. Branding yang cemerlang menurutnya memiliki kekuatan yang membuat dirinya diapresiasi secara positif sehingga mampu menutup sisi negative. “Ketika hal positif lebih besar daripada negative maka pada saat negative akan dengan mudah dimaafkan,” katanya.

Brand yang cemerlang adalah ketika kata kunci yang dimaksud perusahaan dengan di benak setiap orang adalah sama. Ketika sudah sampai tahap ini maka sebuah produk bukan hanya dikenal dan masuk kedalam hati namun konsumen akan berkorban dan beraksi dengan membeli dan membeli lagi sampai loyal. Namun Amalia menandaskan bahwa tahapan ini merupakan upaya jangka panjang. “Brand kuat harus dibangun diatas pondasi kuat yang akan bertahan seiring waktu,” katanya. Sebagai upaya jangka panjang, menurutnya membangun brand diawali dengan proyek jangka pendek yang benar. Setelah itu perjalanan akan dilanjutkan untuk mencapai cita-cita brand yang efektif dan efisien. “Perjalanan ini bisa diawali dan dijalankan dengan benar meskipun tanpa peta. Setiap orang itu unik dan tidak ada yang sama,” ia menambahkan. Sebuah brand yang sukses memiliki karakteristik relevan, konsisten dan khas (istimewa).

Tahapan yang dilalui untuk sebuah I-branding, disampaikan Amalia, yakni identifikasi, brand positioning statement, design & delivery, komunikasi (termasuk media sosial), brand audit dan redefine (repositioning when necessary).

Courtesy : Prasetya Online

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s