Hary Tanoesoedibjo : Indonesia Butuh Lebih Banyak Pengusaha Baru


Hary Tanoesoedibjo berbagi pengalaman bisnis di UB
Hary Tanoesoedibjo berbagi pengalaman bisnis di UB

Setelah menyelesaikan studinya pada 1989, Hary Tanoesodibjo mengawali usaha dibidang sekuritas. Hary yang mengaku murni sebagai seorang entrepreneur menyelesaikan S1 bidang Asset Management dan S2 Corporate Finance di Kanada. Dihadapan mahasiswa dan pegiat Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM), ia membagi pengalamannya menjadi seorang pengusaha. Pada Kamis (19/12), Hary Tanoesoedibjo menjadi pembicara pada kuliah tamu bertajuk “Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan di Kalangan Mahasiswa”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB-UB) di gedung widyaloka.

Pada awal 90-an, Hary yang kini aktif di Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mendapat angin segar dari kebijakan pemerintah yang saat itu gencar mendorong pasar modal. Dengan aktivitas go public-an, pada usia antara 31-32 tahun, ia telah mampu meraup untung hingga Rp. 80 milyar. Krisis ekonomi pada 1998 di berbagai negara Malaysia, Philipina termasuk Indonesia, justru mendorong Hary untuk mengembangkan usaha. “Saat-saat anomali seperti krisis ekonomi merupakan saat tepat untuk melakukan akuisisi dengan melakukan restrukturisasi seperti modal dan sumber daya manusia,” kata dia. Tercatat, pihaknya pernah mengambil alih PT. Bentoel, PT. Astra dan pengambilalihan terakhir yang ia lakukan adalah PT. Bank Bumi Poetra.

Dibawah bendera Media Nusantara Citra (MNC) Group, Hary kini mempekerjakan 30000 karyawan dan pada 2012 pihaknya membayar pajak Rp. 1.3 T atau sekitar 0.1% dari seluruh pendapatan pajak negara. MNC group sendiri memiliki delapan perusahaan public, dimana tujuh ada di Indonesia dan satu di luar negeri. Kapitalisasi pasar kedelapan perusahaan publik ini mencapai Rp. 90 T.

Bidang usaha MNC group meliputi media, properti, jasa keuangan, pertambangan, jalan tol dan investasi. Untuk media, MNC memiliki unit usaha organik seperti Sindo maupun non organik seperti RCTI. Tiga televisi nasional yakni RCTI, MNC dan Global TV telah merebut 4% pangsa pasar di Indonesia. Selain itu, MNC group juga memiliki 40 TV lokal dan televisi berlangganan seperti Indovision, Top TV dan Oke Vision yang menguasai 40% pangsa pasar di Indonesia.

Delapan bulan lalu, MNC juga mengeluarkan media sosial We Chat yang telah memiliki lebih dari 20 juta pelanggan dan terus bertambah hingga 60 ribu orang per harinya. MNC juga berniat menambah konektivitas internet dengan membangun fiber optic di kota besar untuk memfasilitasi pemanfaatan mobile broadband yang akan segera menggantikan fixed broadband. Terjunnya MNC di dunia internet untuk memfasilitasi meningkatnya peminat internet di kalangan muda antara 15-27 tahun. Fenomena ini bahkan telah mencatatkan Jakarta sebagai kota terbesar pengguna facebook di dunia.

Dengan pengalamannya membesarkan bisnis dalam kurun waktu 23 tahun, Hary Tanoe memotivasi anak muda untuk terjun ke dunia entrepreneur. “Indonesia butuh lebih banyak pengusaha baru,” katanya. Agar berkelanjutan, menurutnya jumlah pengusaha sebaiknya minimal 2% dari total populasi. Penambahan pengusaha baru ini akan mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah pajak yang menyumbang 70% APBN.

“Indonesia memiliki potensi sebagai negara besar,” kata Hary Tanoe. Potensi ini diperkuat dengan populasi terbesar keempat yang dimiliki Indonesia, mayoritas masyarakat muda antara 18-50 tahun. Selain itu, Indonesia juga kaya Sumber Daya Alam dan struktur ekonominya didominasi kelas menengah.

Dengan semua potensi tersebut, sangat disayangkan saat ini pendapatan per kapita Indonesia masih berkisar USD 3600, lebih rendah dibanding Malaysia (USD 11000) dan Singapura (USD 55000).

Hary mengasumsikan, jika pendapatan per kapita Indonesia sama seperti Malaysia yakni USD 11000, maka PDB bisa mencapai USD 2.75 T. Asumsi PDB ini bisa menggeser Perancis yang saat ini bertengger pada posisi kelima dunia yakni USD 2.6 T. Berturut-turut negara dengan PDB terbesar adalah Amerika Serikat (USD 15 T), China (USD 9 T), Jepang (USD 6 T) dan Jerman (USD 3.2 T). Namun sayangnya asumsi ini akan berat dicapai karena tingginya angka korupsi, pengangguran, ekonomi belum stabil dan infrastruktur masih minim.

Kiat Sukses Berusaha

Dihadapan peserta, Hary menyampaikan kiat-kiat untuk maksimal dan sukses dalam profesi apapun baik itu pengusaha, PNS maupun karyawan swasta. “Sebelum bicara kiat, kita perlu memastikan dulu tujuan karier kita,” katanya. Dengan tujuan yang jelas, maka akan tercipta harapan, semangat, motivasi dan kreativitas. Setidaknya ada lima kiat yang ia sampaikan yakni fokus pada kualitas, kecepatan, bergaul pada lingkungan yang tepat, konsisten serta be grateful dan surrender.

Usai menyampaikan kuliah tamu, CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo memberikan uang pembinaan kepada 10 mahasiswa berprestasi, 3 dosen terbaik serta satu doktor termuda.

Courtesy : Prasetya Online

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s