Mark Zuckerberg "Drop Out" dan Sukses, Perlu Ditiru ?

Mark-Zuckerberg780x390

Drop out alias berhenti kuliah. Banyak tokoh entrepreneur besar melakukan ini. Pada tahun 1974, pendiri Microsoft Corp., Bill Gates, berhenti kuliah untuk merintis bisnisnya yang kala itu masih berupa startup (perusahaan rintisan digital).

Begitu pula dengan pendiri Virgin Group, Richard Branson. Pria yang terkenal dengan jiwa petualangnya itu berhenti sekolah pada tahun 1966, saat usianya masih 16 tahun, demi merintis bisnis majalah pertamanya, Student Venture.

“Tadinya saya ingin menjadi editor atau jurnalis. Saya tidak sungguh-sungguh tertarik untuk menjadi seorang entrepreneur, tetapi saya sadar saya harus menjadi entrepreneur agar majalah saya bisa bertahan,” kata Branson.

Selain Gates dan Branson, masih ada pendiri Oracle, Larry Ellison; pendiri Dell Computers Inc, Michael Dell; pendiri Apple Inc., Steve Jobs; dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Mereka berhenti kuliah untuk fokus merintis usaha.

Cerita tentang mereka membuktikan bahwa pendidikan bukanlah faktor utama yang menentukan kesuksesan para entrepreneur. Masih ada faktor-faktor lainnya. Tetapi, ini bukan berarti pula bahwa pendidikan bukan hal penting.

Menurut daftar 400 orang terkaya di Amerika Serikat, Forbes 400, yang dirilis pada 2012, terdapat “hanya” 63 entrepreneur yang drop out dari kampusnya. Mereka termasuk Bill Gates serta 2 co-founder Facebook, Mark Zuckerberg dan Dustin Moskovitz. Jumlah itu hanyalah 15% dari jumlah miliarder yang ada dalam daftar. Sisanya lebih besar, yakni sebanyak 85%, menyelesaikan kuliah mereka.

Dalam daftar itu, terdapat 29 orang miliarder yang meraih gelar Master of Science. Di antara mereka adalah investor Warren Buffett; co-founder LinkedIn, Reid Hoffman; serta 2 co-founder Google, Sergey Brin dan Larry Page.

Pada dasarnya, yang membuat mereka menjadi orang besar adalah passion dan tekad mereka untuk melihat ide-idenya sukses dieksekusi. Mereka tidak takut gagal dan ingin melakukan hal-hal lebih, yang berbeda dari orang lain.

Seperti kata CEO dan co-founder Google, Larry Page, “Apa yang menarik dari bekerja jika hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengalahkan perusahaan lain yang melakukan hal yang sama dengan kita?”

Seseorang bisa saja sukses tanpa pendidikan formal. Tetapi, pelajaran di kampus atau sekolah bisnis tentunya akan memperkaya para mahasiswa dan calon entrepreneur dengan ilmu dan pengetahuan soal bisnis dan marketing.

Selain itu, ilmu dan gelar sarjana, apalagi yang didapat dari kampus ternama, bisa juga berperan menambah rasa percaya diri seseorang. Satu hal lagi yang tak kalah penting—belajar di perguruan tinggi juga dapat membuka network.

Sementara teori-teori dan simulasi bisnis yang diberikan ketika kuliah menjadi bekal yang berguna bagi entrepreneur atau calon entrepreneur, pada akhirnya pengalaman di dunia bisnis yang sesungguhnyalah yang akan menjadi guru yang paling hebat. Kesuksesan mereka ditentukan bagaimana mereka menghadapi tantangan dengan kreatif dan inovatif, bagaimana mereka bertahan dan berusaha bangkit ketika gagal.

Drop out demi merintis startup belum tentu keputusan yang bijak—kecuali jika bisnis yang dirintis tengah berkembang pesat, atau si pendiri punya jaringan yang luas, atau dia adalah orang jenius, atau sangat beruntung. Tetapi dalam bisnis, entrepreneur tidak mungkin mengandalkan keberuntungan saja, bukan?

Courtesy : KOMPAS

3 Nasihat Bisnis dari CEO Google

Larry

Google adalah salah satu contoh perusahaan yang sukses berkat adanya inovasi yang terus-menerus. Berawal dari sebuah mesin pencari, perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin itu kini telah menciptakan beragam aplikasi dan layanan serta merajai Internet.

Ada beberapa kebiasaan unik yang dikembangkan Google untuk memupuk budaya inovasi dan kreativitas dalam perusahaannya. Salah satunya adalah pertemuan mingguan. Setiap karyawan Google dari seluruh dunia bebas memberikan pertanyaan kepada para eksekutif Google, baik secara langsung maupun melalui email.

Para karyawan juga dapat memberikan kritik ataupun mengemukakan ide-ide mereka kepada para pemimpin perusahaan.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Wired.com, CEO Google, Larry Page, menyampaikan beberapa tips sukses perusahaannya dalam berbisnis. Berikut adalah beberapa nasihatnya yang sangat menarik.

1. Lakukan hal-hal yang “gila”

Banyak perusahaan besar menjadi lengah dan lupa berinovasi. Hal itu dihindari oleh Google dengan memupuk budaya inovasi di lingkungan perusahaannya. Setiap karyawan di perusahaan ini dituntut untuk “Think Big”, berpikir dan melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Sejak kecil, Page bermimpi untuk menjadi seorang penemu. Dia tidak hanya ingin bisa menciptakan produk yang hebat, tetapi juga ingin mengubah dunia. Mimpi itu tetap hidup hingga kini dan dia wujudkan bersama Google.

Bagi Page, kepuasan adalah ketika dia dan timnya bisa mengembangkan inovasi 10 kali lipat dari yang telah mereka kembangkan sebelumnya. Jadi, tak heran jika inovasi menjadi inti dari bisnis Google. Lihat saja Gmail, layanan email yang menawarkan kapasitas penyimpanan 100 kali lebih besar ketimbang kapasitas yang diberikan oleh layanan-layanan email lainnya.

Google juga telah menciptakan layanan penerjemah berbagai bahasa serta melahirkan Google Maps dan Google Drive, layanan penyimpanan data berbasis teknologi cloud computing. Selain itu, masih ada YouTube, Android, dan Chrome yang menarik dan telah digunakan banyak orang.

Google bahkan dikabarkan membangun sebuah proyek dan lab khusus bernama Google X. Berbagai fasilitas dalam lab Google X dibuat untuk mendukung riset Google untuk menciptakan beragam teknologi masa depan, seperti mobil yang bisa berjalan sendiri dan kacamata berbasis teknologi Augmented Reality.

“Jika tidak melakukan hal-hal gila, kamu melakukan hal-hal yang salah,” kata Page. Sebagai CEO, dia selalu mendorong timnya untuk berinovasi.

2. Inovasi harus diikuti dengan komersialisasi

Inovasi yang sukses harus diikuti dengan komersialisasi. Page mencontohkan Xerox PARC, salah satu anak perusahaan Xerox Corp, yang didirikan pada tahun 1970. Xerox PARC terkenal dengan berbagai inovasinya di bidang teknologi dan hardware. Beberapa inovasinya memegang peranan penting dalam dunia komputasi modern, di antaranya, ethernet, graphical user interface (GUI), dan teknologi laser printing.

“Namun, mereka tidak fokus pada komersialisasi,” kata Larry. Hal itulah yang membuat Xerox PARC gagal.

Larry memberikan contoh lain, yakni Tesla. Tesla adalah salah satu perusahaan yang dia kagumi, yang mengembangkan mobil inovatif. Namun, perusahaan yang didirikan oleh Nikola Tesla itu menghabiskan 99 persen tenaganya untuk mengembangkan produknya agar disukai banyak orang. Hal itulah yang menyebabkan Tesla akhirnya jatuh.

Xerox PARC dan Tesla gagal karena hanya fokus pada inovasi. Setiap perusahaan membutuhkan dua hal untuk sukses, yakni inovasi dan komersialisasi.

3. Jangan fokus pada persaingan

Google berbeda dari perusahaan-perusahaan teknologi lainnya. Google fokus pada pengembangan produk-produk dan layanannya, bukan fokus pada kompetisi.

“Apa yang menarik dari bekerja jika hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengalahkan perusahaan lain yang melakukan hal yang sama dengan kita? Itulah yang membuat banyak perusahaan jatuh secara perlahan. Mereka cenderung melakukan hal yang sama dengan yang pernah mereka lakukan dan membuat beberapa perubahan kecil,” kata Page.

Menurut Page, memang wajar jika banyak orang ingin mengerjakan hal-hal yang mereka yakin tidak akan gagal. Namun, untuk sukses, perusahaan teknologi perlu membuat suatu perubahan yang besar.

Ketika merilis Gmail, misalnya, Google masih menjadi sekadar perusahaan mesin pencari. Menciptakan layanan email berbasis web merupakan suatu lompatan besar bagi Google, apalagi Gmail berani menyediakan kapasitas penyimpanan email yang sangat besar jika dibandingkan penyedia layanan serupa pada saat itu.

Pada saat mengembangkan Gmail, sudah ada beberapa perusahaan lain yang memiliki mesin pencari. Gmail tidak akan ada jika Google hanya fokus untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan itu. Google memilih untuk fokus mengembangkan produk-produk dan layanannya.

Courtesy : KOMPAS

Ingin Dilirik Pemodal? Ide Keren Saja Tak Cukup

Ide cool

Pertumbuhan bisnis digital di Indonesia, diikuti oleh bertambahnya jumlah perusahaan pemodal ventura (venture capital).

Hingga pertengahan 2012, tercatat ada belasan perusahaan pemodal ventura khusus teknologi dari dalam maupun luar negeri. Mereka “berburu” perusahaan rintisan (startup) digital yang punya ide dan produk keren. Namun, ide dan produk saja tak cukup menggoda perusahaan pemodal untuk memberikan investasinya. Mereka juga mempertimbangkan kredibilitas si pendiri dan resiko terbesar yang akan ia alami.

Perusahaan pemodal ventura Ideosource, misalnya, enggan berinvestasi jika startup itu hanya mengandalkan ide.

Direktur Ideosource Andi S. Boediman mengatakan, pihaknya lebih tertarik dengan ide yang telah terlaksana dan menjadi produk. Apalagi, jika produk itu dinilai punya daya tarik dan diakui oleh sekelompok kecil orang.

“Daya tarik dan pengakuan itu penting. Kalau bisnisnya e-commerce, ya mereka sudah melakukan transaksi. Kalau bisnis media, sudah ada trafik. Kalau konten, sudah mendapat banyak unduhan,” jelasnya pertengahan September lalu.

Tak sekedar produk, Andi juga memandang penting kapabilitas pendiri dan tim startup itu, apakah mereka punya kesadaran bisnis dan bisa membaca pasar?

Hal senada diungkapkan Anthonny Liem, CEO dari MerahPutih Inkubator. “Yang pertama kali kita lihat adalah si pendiri dan timnya. Karena, yang mengeksekusinya itu kan orangnya. Produknya bisa dibentuk,” tegas Anthonny saat dihubungi lewat telepon.

MerahPutih mulai berinvestasi pada Agustus 2010. Hingga saat ini ada 7 startup yang mendapat dana segar dari MerahPutih. Perusahaan yang berada di bawah payung Djarum ini, fokus pada empat segmen bisnis digital, yakni social platform, e-commerce, aplikasi mobile, dan game.

Ia mengenaskan, MerahPutih bukan pemodal ventura yang berinvestasi di banyak startup, agar risikonya terbagi. Besar harapan Anthonny agar startup tersebut dapat menghasilkan uang dan produknya dipakai banyak orang. Karena itulah, kemampuan berwirausaha dan manajemen para pendiri sangat dipertimbangkan.

Para investor berharap nilai startup itu bisa naik berkali-kali lipat, setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. Ketika startup itu diberi investasi lagi oleh pemodal ventura lain, maka nilainya juga ikut naik. Penetrasi pengguna internet dan perangkat mobile di Indonesia yang terus meningkat, juga membawa peluang besar bagi industri digital.

Courtesy : KOMPAS

Menebak Pundi Uang Google dari YouTube

youtube

Google mengakuisisi YouTube pada 2006 dengan nilai fantastis, yaitu 1,65 miliar dollar AS. Saat ini, YouTube menjadi salah satu lumbung uang bagi Google. Namun, Google tidak pernah mengungkapkan secara pasti berapa keuntungan yang didapat dari iklan di YouTube. Beberapa lembaga analis pun mencoba membuat perhitungan mereka sendiri.

Analisis terbaru muncul dari lembaga eMarketer yang memublikasikan perkiraan keuntungan iklan YouTube. Lembaga tersebut memprediksi pendapatan kotor YouTube meningkat 51 persen menjadi 5,6 miliar dollar AS di tahun 2013 ini.

Setelah YouTube membayar rekanan dan pembuat video, maka pendapatannya akan menjadi sekitar 1,96 miliar dollar AS tahun ini. Angka tersebut naik 65,5 persen dibanding pencapaian YouTube di 2012 dengan keuntungan bersih 1,18 miliar dollar AS.

Menurut eMarketer, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (11/12/2013), pihaknya menggunakan ratusan studi dan datapoint tentang keuntungan YouTube, ad impressions, jumlah pengguna, dan faktor-faktor lain yang dikumpulkan oleh firma penelitian, investasi bank, laporan perusahaan serta hasil wawancara dengan eksekutif industri di bidang ini.

Sementara itu, lembaga riset lain, Wedge Partners, mengklaim bahwa YouTube menyumbang 10 persen pendapatan Google. Angka tersebut tidak jauh meleset dari perkiraan eMarketer.

Dengan patokan pencapaian kuartal empat YouTube adalah sama dengan rata-rata tiga kuartal sebelumnya, maka jumlah totalnya hingga akhir tahun adalah 5,73 miliar dollar AS.

Namun, semua itu masih berupa perkiraan, dan Google tampaknya tidak akan mengumumkan angka yang sebenarnya. Tampaknya pengeluaran Google sebesar 1,65 miliar dollar AS untuk membeli YouTube mulai terbayar di 2013 ini.

Layanan YouTube kini memiliki 1 miliar penonton di seluruh dunia, dengan waktu rata-rata yang mereka habiskan di YouTube mencapai 6 miliar jam per bulan. Delapan puluh persen penonton berasal dari luar Amerika Serikat, dan sekitar 40 persennya berasal dari pengguna perangkat mobile.

Courtresy : Techno Kompas

"Promoted Trends" Twitter Tak Laku, Terlalu Mahal ?

Suasana-bursa-saham-New-York-Stock-Exchane-NYSE-saat-Twitter-menawarkan-saham-perdananya-kepada-publik-Kamis-7-11-2013-780x390

Suasana di bursa saham New York Stock Exchane (NYSE) saat Twitter menawarkan saham perdananya kepada publik, Kamis (7/11/2013).

Twitter sedang menggenjot bisnisnya, selain go public, perusahaan juga giat memasarkan iklan di layanan mereka.

Metode iklan yang banyak dipuji dan cukup menghasilkan uang untuk Twitter adalah Promoted Tweets. Namun model bisnis Twitter yang lain, Promoted Trends, ternyata belum bisa berkontribusi banyak terhadap keuntungan perusahaan.

Dikutip dari Techcrunch, Rabu (8/12/2013), Twitter menyebutkan bahwa pada tiga bulan terakhir hingga Juni 2013, produk Promoted Trends menyumbang revenue kurang dari 10 persen.

Pada 3 Oktober, Twitter menyerahkan laporan kepada SEC setelah pada November lalu melakukan IPO. Dalam laporan tersebut, Twitter menyatakan revenue perusahaan selama sembilan bulan pertama 2013 adalah 422,2 juta dollar AS.

Promoted Trends pertama kali diperkenalkan Twitter pada 2010, mengikuti Promoted Tweets yang muncul di timeline penggunanya.

Promoted Trends adalah metode mencari keuntungan di luar timeline yang dilakukan Twitter.

Twitter mengklaim dengan metode tersebut, akan meningkatkan perbincangan 22 persen di timeline bagi barang atau jasa yang diiklankan, peningkatan mention brand hingga 30 persen, dan peningkatan 32 persen retweet suatu brand dalam dua pekan ekspos.

Pada Februari lalu, harga yang dipatok Twitter untuk layanan ini sekali tayangnya adalah 200.000 dollar AS  (Rp 2,4 juta). Apakah banderol harga yang sangat tinggi membuat Promoted Trends tak laku?

Courtresy : Techno Kompas

Pentingnya Menulis Jurnal untuk Evaluasi Diri

evaluasi-diri

Mendekati akhir tahun kebanyakan dari kita sudah mulai ‘galau’ memikirkan apa saja yang sudah kita lakukan pada tahun ini. Dan tentunya kalau mengingat-ingat dengan memori kita yang terbatas, sudah nggak ke-track lagi apa saja yang terjadi sepanjang tahun 2013. Padahal, untuk mulai mengevaluasi diri, kita harus tahu apakah kegiatan yang sudah kita lakukan sesuai dengan rencana kita sebelumnya (jika sempat membuat resolusi tahun lalu), atau apakah kegiatan kita sudah membuat kita berkembang menjadi orang yang lebih baik lagi. Di saat seperti inilah, membuat jurnal, seperti menulis blog secara rutin menjadi penting.

Setiap akhir tahun, saya akan rutin mengecek arsip blog saya untuk evaluasi diri. Saya punya 2 blog (oke, sebenarnya ada banyak, tapi mari kita anggap saya punya 2 blog yang paling utama). Blog pertama adalah tempat saya menulis journal of expertise, berisi tips dan pengalaman yang menyangkut keahlian saya seperti menulis dan berbisnis, isinya lebih profesional. Blog kedua berisi journal of reaction, tempat saya menulis secara rutin setiap harinya, tulisannya lebih pendek dan spontan, tentang orang-orang yang saya temui, reaksi saya terhadap hal yang saya lihat, rekaman reaksi pembaca terhadap tulisan saya, hingga curhatan-curhatan manusiawi lainnya :D

Dari kedua blog ini, saya bisa menelusuri dari bulan ke bulan dan mengevaluasi yang sudah saya lakukan di bidang-bidang yang penting bagi diri saya seperti:

  • Bisnis yang saya jalankan
  • Jumlah buku yang saya tulis
  • Sharing yang saya lakukan kepada masyarakat
  • Impact kegiatan saya terhadap orang lain
  • Penghargaan yang diberikan pada saya
  • Hobi dan kesenangan
  • Agama dan spiritualitas
  • Penghasilan dan pengaturannya
  • Kesehatan dan kebugaran
  • Hubungan dengan orang-orang terdekat
  • Langkah menuju mimpi berikutnya

Menambahkan tags yang relevan pada blog post kita akan sangat membantu dalam mengukurnya. Misal, saya memberikan tag setiap kali ada pembaca yang mengapresiasi tulisan saya. Dari situ, saya bisa tahu impact positif dari tulisan saya yang akan memotivasi saya untuk menulis lebih produktif lagi di tahun depan.

Dari mengecek journal juga saya jadi tahu kalau saya menemukan cara baru yang menyenangkan untuk mulai berolahraga rutin setiap hari yaitu mengikuti video senam di YouTube :D dan saya juga jadi tahu, paling tidak ada 3 rencana saya yang tidak bisa diwujudkan tahun ini, namun ada banyak hal yang tidak terencana jadi terwujud. Seperti kata Shirley Ann Jackson, “Aim for the stars so that you can reach the treetops, and at least you will get off the ground.”

Journaling surely will help us improve ourselves.

Selamat menulis jurnal!

Courtesy : Friends of Acer

Setelah Lulus, Pilih Kerja atau Kuliah S2 ?

20120407_092615_sarjana-1

Para sarjana yang baru lulus kuliah dan cukup beruntung memiliki pilihan, seringkali malah bingung menentukan langkah selanjutnya. Apakah langsung kerja atau melanjutkan S2? Apapun pilihannya, keduanya sama-sama memiliki sisi positif dan negatif. Tinggal kemantapan hati untuk berkomitmen menjalankan apa yang dipilih dengan sungguh-sungguh.

Ketika Langsung Bekerja

Jika Anda memilih untuk bekerja setelah lulus kuliah S1, ada beberapa keuntungan yang dapat Anda peroleh. Yang utama, Anda akan memperoleh pengalaman kerja. Seperti yang kita semua tahu, dunia kerja tidak sama dengan dunia kuliah. Kenyataan di dunia kerja seringkali tidak sama dengan teori yang kita dapat di bangku perkuliahan. Jadi, Anda yang langsung bekerja tergolong beruntung dapat merasakan langsung pengalaman bekerja, suatu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh di dalam kelas.

Anda juga jadi lebih mandiri, dengan memperoleh pemasukan sendiri dan tidak bergantung lagi kepada orangtua. Untuk masa awal bekerja, memang gaji standar fresh graduate tidak sebesar mereka yang telah berpengalaman. Namun setelah satu tahun bekerja, apalagi jika terus bertahan di satu perusahaan yang sama, maka Anda mungkin saja memperoleh kenaikan gaji. Demikian juga untuk di tahun-tahun selanjutnya, umumnya akan ada kenaikan gaji setiap tahun yang persentase kenaikannya tergantung performa kerja.

Setelah bekerjapun, kesempatan kuliah S2 masih terbuka. Ada saja beberapa orang yang beruntung karena dapat menjalani keduanya sekaligus. Anda malahan dapat mencari beasiswa, yang seringkali mensyaratkan adanya pengalaman kerja selama beberapa tahun. Jika Anda termasuk kelompok yang beruntung ini, yang terpenting adalah pembagian waktu yang baik agar seimbang antara perkuliahan dan pekerjaan. Namun pilihan ini juga memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, misalnya waktu istirahat yang berkurang. Ada juga beberapa yang terpaksa memilih salah satunya, karena ada saja kendala yang menghadang. Seperti jadwal kantor yang tidak fleksibel untuk disesuaikan dengan jadwal perkuliahan, lokasi yang berjauhan antara kantor dan kampus, kemacetan di jalan, dan sebagainya.

Sementara itu, tidak peduli berapa lama yang dihabiskan seseorang untuk duduk di bangku kuliah, apakah lulusan S1 atau langsung melanjutkan S2, setiap orang seringkali akan mengalami culture shock saat pertama kali memasuki dunia kerja. Semasa kuliah, seseorang diwajibkan untuk rutin masuk kelas sesuai jadwal dengan aktivitas sehari-hari berupa belajar dan mengerjakan tugas. Jika berhasil memperoleh nilai tinggi, maka Anda tergolong mahasiswa yang pandai. Namun di dunia kerja, Anda nantinya akan dituntut untuk pandai menghadapi masalah. Mahasiswa yang memiliki nilai akademis baik, belum tentu akan mampu menyelesaikan kendala yang dihadapi di dunia kerja dengan efektif. Oleh karena itu, adanya pengalaman kerja diperlukan untuk mengasah keterampilan-keterampilan tersebut, yang nantinya berguna juga dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Melanjutkan S2

Memiliki gelar S2 ada banyak untungnya. Pemahaman Anda akan suatu disiplin ilmu akan dapat semakin dalam. Dalam perkuliahan, akan ada banyak pembahasan kasus-kasus yang banyak terjadi di suatu organisasi. Kesempatan untuk mengembangkan karir juga semakin luas. Dengan kata lain, prospek karir di masa depan yang lebih cerah. Jabatan Anda sebagai seorang lulusan S2 juga tentu akan lebih baik ketimbang mereka yang lulusan S1. Selanjutnya, hal ini berdampak juga ke kompensasi (baca: gaji) yang lebih tinggi.

Dalam membuat keputusan untuk melanjutkan S2, pilihannya adalah sekarang atau nanti. Ada yang ingin memperoleh pengalaman kerja dulu selama beberapa tahun, ada juga yang ingin langsung kuliah S2 karena masih semangat belajar dan khawatir akan malas untuk kembali kuliah jika telah asyik bekerja. Jika pertimbangan Anda untuk langsung melanjutkan S2 adalah lebih baik sekarang daripada nanti, maka ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 selepas meraih gelar sarjana.

Teman-teman kuliah S2 mayoritas sudah bekerja. Ada yang bekerja sebagai karyawan, akademisi, pengusaha, dan sebagainya. Dengan ini, Anda dapat belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Posisi Anda juga relatif sama dengan mereka. Sama-sama mahasiswa dan tidak ada senioritas. Variasi usia menjadi lebih setara. Semuanya sama-sama harus mengikuti peraturan perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Jadi, Anda akan dapat lebih leluasa dan meminimalkan perasaan sungkan ketika berdiskusi dengan mereka. Hal ini juga dapat melatih keterampilan Anda untuk berkomunikasi dengan berbagai tipe orang.

Di sisi lain, pengetahuan Anda dapat saja dipandang masih bersifat teoretis, sedangkan teman-teman yang sudah bekerja pengetahuannya bersifat lebih praktis dan aplikatif di dunia kerja. Misalnya, ketika dosen sedang menjelaskan suatu materi, pola pikir Anda akan suatu kasus lebih ke apa yang seharusnya menurut teori. Sedangkan mereka yang sudah pernah terjun langsung ke dunia kerja, pemaknaannya dapat lebih kaya dan luas.

Anda juga harus mempersiapkan diri untuk menyisihkan waktu sekitar dua tahun untuk tidak bekerja (jika Anda tidak mengambil opsi kerja magang atau part time). Anda akan lebih lambat meniti jenjang karir dibanding teman-teman Anda yang sudah bekerja. Sementara itu di Indonesia, yang dihargai tetaplah pengalaman kerja. Anda yang sudah lulus S2 namun masih belum memilliki pengalaman kerja, tetap dipandang sebagai seorang fresh graduate.

Jika Anda ingin berkecimpung di bidang professional seperti Psikolog, Akuntan, Notaris, dan sebagainya, memang profesi ini mensyaratkan pendidikan S2 agar Anda dapat memperoleh ijin praktek yang dibutuhkan. Namun tetap saja bidang ini juga membutuhkan pengalaman kerja agar Anda lebih paham tentang materi perkuliahan. Sebagai solusi, Anda dapat kuliah S2 sambil kerja. Anda dapat kerja part time atau memilih kuliah di malam hari, agar kuliah S2 dan kerja tetap dapat berjalan.

Demikian pula jika Anda ingin bekerja di bidang akademisi, maka persyaratan pendidikan S2 juga harus Anda penuhi. Khusus bidang ini, semakin cepat lulus S2 sesungguhnya lebih baik, agar Anda dapat lebih cepat mengajar. Namun sebaiknya Anda juga sambil mengasah keterampilan presentasi dan mengajar. Di sela-sela waktu kuliah S2, Anda dapat mendaftarkan diri untuk menjadi asisten dosen.

Jadi.. Yang mana pilihan Anda? Silahkan menentukan prioritas, dengan tidak lupa untuk mempertimbangkan segala dampak positif dan negatifnya ya.

Courtesy : Pascasarjana Universitas Jember

Fresh Graduate : Lagi Cari Kerja? Ini Tipsnya

sarjana bingung

Namanya juga berburu, pasti butuh persiapan. Begitu juga untuk urusan berburu pekerjaan. Pencari kerja harus siap sebelum memulai usaha mereka dalam mendapatkan dan melamar lowongan pekerjaan.

Sebab, proses mencari dan melamar kerja bukanlah kegiatan yang mudah. Terkadang, ada saja kendala yang menghambat kita meraih pekerjaan impian.

Nah, supaya enggak terhambat dalam mencari dan melamar kerja, simak tips berikut seperti dilansir College Cures, Kamis (21/11/2013).

Siapkan berkas lamaran

Enggak semua lowongan pekerjaan sama. Beberapa lowongan membutuhkan surat lamaran atau referensi, sementara lowongan lainnya tidak. Bagaimanapun juga, sangatlah penting menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan sebelum melamar kerja.

Jadi, begitu menemukan lowongan yang tepat, Anda tidak perlu menunggu lama untuk melamar. Perlu diingat, semakin lama Anda menunda untuk melamar, semakin besar kemungkinan Anda kehilangan peluang tersebut.

Biasanya, untuk melamar sebuah lowongan pekerjaan Anda akan diminta menyiapkan surat lamaran, curriculum vitae (CV) dan tiga referensi. Beberapa lowongan ada yang mensyaratkan transkrip nilai dan surat rekomendasi.

Jangan lupa, hubungi terlebih dahulu orang yang Anda minta sebagai referensi sebelum menuliskan nama mereka di kolom referensi. Ini adalah etika umum, sehingga pemberi referensi dapat bersiap jika harus dihubungi via telepon ataupun email tentang permohonan referensi Anda. Biasanya, pemberi referensi adalah seseorang yang dapat memberikan informasi tentang kualifikasi Anda seperti dosen atau atasan.

Tuliskan pengalaman kerja sebelumnya

Jika Anda mengisi lamaran kerja secara online, maka Anda harus menuliskan pengalaman kerja Anda sebelumnya; termasuk alamat, nomor telepon, nomor kontak dan alamat email dari atasan Anda sebelumnya. Jika Anda tidak mengingat semua informasi ini, akan sangat membantu apabila Anda membuat dokumen khusus berisi informasi tersebut yang mudah diakses saat Anda melamar kerja secara online.

Cek lagi

Setiap kali Anda mengirimkan berkas lamaran kerja, luangkan waktu untuk mengecek kembali kelengkapan  berkas Anda. Cek juga penulisan dalam surat lamaran kerja Anda, jangan sampai ada kesalahan ketik atau tata bahasa.

Cek ricek ini sangat penting ketika Anda melamar lebih dari satu lowongan kerja karena kemungkinan salah tulis posisi yang dilamar sangat terbuka lebar; misalnya salah menulis nama perusahaan atau nama pejabat perusahaan yang dituju.

Catat lowongan kerja yang dilamar

Tulis berkas lowongan kerja yang Anda masukkan pada sebuah catatan khusus. Dengan begitu, Anda tidak akan kehilangan jejak telah melamar untuk lowongan apa saja dan perusahaan mana saja. Cantumkan data perusahaan, nama kontak dan nomor telepon atau email dalam daftar tersebut.

Courtesy : Okezone Campuss

Fresh Graduate masih Nganggur? Kerjakan ini Saja Dulu

sarjana bingung

Jika kamu masih menganggur kerja dan khawatir akan ditolak terus-menerus ketika melamar kerja, tidak perlu panik. Menikmati waktu luang selagi sempat menjadi cara ampuh sementara waktu.

Tapi ingat, keadaan ini bukan berarti Anda bisa sekadar duduk santai dan menunggu perusahaan bersimpati untuk menawarkan pekerjaan. Banyak alasan mengapa kamu belum dipekerjakan.

Sebuah perusahaan mempunyai kekhawatiran jika si pencari kerja tidak mempunyai keterampilan yang berkontribusi pada perusahaannya. Tapi, daripada bingung dan suntuk masih memikirkan pekerjaan yang tak kunjung datang, ada beberapa hal kreatif yang bisa kamu lakukan.

Berikut delapan hal yang harus dilakukan saat masih menganggur dan belum juga dipanggil kerja, seperti dilansir dari laman Forbes, Rabu (20/11/2013).20120407_092615_sarjana-1
Ambil kerja paruh waktu atau kontrak

Kuncinya adalah, melihat pekerjaan kamu dan melihat kemampuan yang dilakukan. Jika kamu melakukan pekerjaan untuk sementara atau kerja kontrak, siapa pun yang mempekerjakan kamu, mungkin akan merekomendasikan untuk posisi kerja tetap.

Kursus

Anda tidak pernah berhenti belajar dalam karier, sehingga kompetensi yang dimiliki semakin membaik. Ketika kamu kursus di bidang yang dikuasai, ini menunjukkan bahwa kamu juga serius tentang pekerjaan yang diminati dan juga mempunyai inisiatif. Keuntungan lain dalam kursus ini adalah jaringan besar untuk memperluas pergaulan.

Sukarelawan

Pekerjaan sukarela membuat kamu lebih berharga. Ketika menjadi sukarelawan untuk sesuatu hal, ceritakan aktivitasmu kepada si pewawancara secara pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kamu bersemangat tentang sesuatu dan peduli membantu orang lain sehingga mengesankan bahwa uang bukan hal yang paling penting. Ketika perusahaan mempekerjakan, mereka mencari tidak hanya sekadar bekerja, tetapi juga untuk orang-orang dengan karakter dan integritas.

Memulai bisnis sendiri

Memulai bisnis memang memakan waktu. Jika kamu memiliki sarana untuk melakukannya, itu akan menjadi pemasaran yang bagus. Keuntungan memiliki bisnis sendiri adalah dapat bekerja paruh waktu atau penuh waktu tergantung pekerjaannnya. Anda juga akan belajar keterampilan yang dapat ditularkan, sehingga juga bisa dipakai ketika bekerja untuk orang lain.

Mulai membuat blog

Sebuah blog dapat menjadi cara yang baik untuk memasarkan diri kamu kepada sebuah perusahaan. Mmenunjukkan kepada perusahaan untuk melihat kamu ahli di bidangnya. Selain itu, sampaikan passion kamu dan gali lah banyak pengetahuan. Perusahaan akan melihat potensi kamu sebagai orang yang mempunyai inisiatif selama mencari kerja melalui blog tentang sesuatu yang benar-benar kamu pedulikan tentang karier.

Ikuti berita terbaru seputar pekerjaan

Teknologi informasi, teknik, kesehatan, penjualan, dan layanan pelanggan adalah salah satu area untuk mempekerjakan orang secara nasional. Ikuti selalu berita terbaru mengenai sebuah lowongan pekerjaan.

Gunakan waktu untuk menuangkan ide

Apakah itu ide untuk kampanye pemasaran, aliran pendapatan baru maupun penghematan biaya. Setiap kandidat yang diwawancara dengan ide-ide tersebut menunjukkan bahwa mereka mempunyai passion, berpengetahuan, dan gembira mendapatkan kesempatan.

Membuat koneksi

Surat lamaran kerja langsung diserahkan kepada manajer perekrutan dari seseorang dalam perusahaan. Ini lebih mungkin untuk mendapatkan perhatian dengan membangun dan memperluas jaringan kontak melalui media sosial dan organisasi profesi. Biarkan teman-teman dan keluarga tahu bahwa kamu sedang mencari pekerjaan. Minta lah bantuan kepada mereka dalam menemukan koneksi ke organisasi yang membuatmu tertarik.

Courtesy : Okezone Campuss