Kenali Potensi Diri Sebelum Melamar Kerja

Kegiatan Coaching Clinic dibuka Ketua JPC UB

Kegiatan Coaching Clinic dibuka Ketua JPC UB

Job Placement Center (JPC) Universitas Brawijaya (UB) bekerjasama dengn Indo GETJob Kopeg Telkom Malang pada Kamis (30/5) menyelenggarakan Coaching Clinic pelatihan kerja pada puluhan mahasiswa. Ketua JPC UB, Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Suyadi , MS. menyampaikan kegiatan ini merupakan sarana bagi mahasiswa untuk mengetahui kemampuan diri dalam memasuki dunia kerja.

“Sangat penting mengetahui dan memahami kemampuan diri agar bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai selain itu kemampuan berbahasa juga sangat diperlukan untuk menghadapi Asean Economoic Community,” ungkapnya.

Iwan Nazarudin selaku Team Leader  Indo GETJob kemudian menjelaskan bahwa kegiatan  Coaching Clinic merupakan sebuah sarana konsultasi sebelum memasuki dunia kerja.

“Harapannya setelah acara peserta bisa mempersiapkan diri dengan mengetahui potensi yang dimiliki serta memahami perusahaan yang diinginkan,” jelasnya.

Menurut Iwan 80% lulusan lebih memilih untuk bekerja dibandingkan dengan berwirausaha maupun melanjutkan studi. Sayangnya para pencari kerja kebanyakan tidak memperhatikan impian perusahaan yang diinginkan. Padahal hal tersebut merupakan poin penting bagi pelamar untuk diterima.

“Mimpi perusahaan adalah pengembangan dan keamanan investasi, kepentingan visi dan misi, kecepatan pemenuhan target serta kualitas produk terbaik sehingga menjadi pemimpin kompetitor,” paparnya.

Bersikap jujur merupakan upaya pengembangan dan keamanan investasi sedangkan sikap loyal merupakan implementasi kepentingan visi misi perusahaan. Dua sikap itulah yang merupakan kemampuan soft skill.

Acara Coaching Clinic  ini akan dilanjutkan dengan agenda Go Careers Program  yang akan berlangsung pada Sabtu (15/6). Kegiatan ini terbuka untuk umum dengan  mendaftarkan diri ke JPC UB. Info lengkap bisa dilihat di laman ini.

Hary Tanoesoedibjo : Indonesia Butuh Lebih Banyak Pengusaha Baru

Hary Tanoesoedibjo berbagi pengalaman bisnis di UB
Hary Tanoesoedibjo berbagi pengalaman bisnis di UB

Setelah menyelesaikan studinya pada 1989, Hary Tanoesodibjo mengawali usaha dibidang sekuritas. Hary yang mengaku murni sebagai seorang entrepreneur menyelesaikan S1 bidang Asset Management dan S2 Corporate Finance di Kanada. Dihadapan mahasiswa dan pegiat Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM), ia membagi pengalamannya menjadi seorang pengusaha. Pada Kamis (19/12), Hary Tanoesoedibjo menjadi pembicara pada kuliah tamu bertajuk “Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan di Kalangan Mahasiswa”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB-UB) di gedung widyaloka.

Pada awal 90-an, Hary yang kini aktif di Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mendapat angin segar dari kebijakan pemerintah yang saat itu gencar mendorong pasar modal. Dengan aktivitas go public-an, pada usia antara 31-32 tahun, ia telah mampu meraup untung hingga Rp. 80 milyar. Krisis ekonomi pada 1998 di berbagai negara Malaysia, Philipina termasuk Indonesia, justru mendorong Hary untuk mengembangkan usaha. “Saat-saat anomali seperti krisis ekonomi merupakan saat tepat untuk melakukan akuisisi dengan melakukan restrukturisasi seperti modal dan sumber daya manusia,” kata dia. Tercatat, pihaknya pernah mengambil alih PT. Bentoel, PT. Astra dan pengambilalihan terakhir yang ia lakukan adalah PT. Bank Bumi Poetra.

Dibawah bendera Media Nusantara Citra (MNC) Group, Hary kini mempekerjakan 30000 karyawan dan pada 2012 pihaknya membayar pajak Rp. 1.3 T atau sekitar 0.1% dari seluruh pendapatan pajak negara. MNC group sendiri memiliki delapan perusahaan public, dimana tujuh ada di Indonesia dan satu di luar negeri. Kapitalisasi pasar kedelapan perusahaan publik ini mencapai Rp. 90 T.

Bidang usaha MNC group meliputi media, properti, jasa keuangan, pertambangan, jalan tol dan investasi. Untuk media, MNC memiliki unit usaha organik seperti Sindo maupun non organik seperti RCTI. Tiga televisi nasional yakni RCTI, MNC dan Global TV telah merebut 4% pangsa pasar di Indonesia. Selain itu, MNC group juga memiliki 40 TV lokal dan televisi berlangganan seperti Indovision, Top TV dan Oke Vision yang menguasai 40% pangsa pasar di Indonesia.

Delapan bulan lalu, MNC juga mengeluarkan media sosial We Chat yang telah memiliki lebih dari 20 juta pelanggan dan terus bertambah hingga 60 ribu orang per harinya. MNC juga berniat menambah konektivitas internet dengan membangun fiber optic di kota besar untuk memfasilitasi pemanfaatan mobile broadband yang akan segera menggantikan fixed broadband. Terjunnya MNC di dunia internet untuk memfasilitasi meningkatnya peminat internet di kalangan muda antara 15-27 tahun. Fenomena ini bahkan telah mencatatkan Jakarta sebagai kota terbesar pengguna facebook di dunia.

Dengan pengalamannya membesarkan bisnis dalam kurun waktu 23 tahun, Hary Tanoe memotivasi anak muda untuk terjun ke dunia entrepreneur. “Indonesia butuh lebih banyak pengusaha baru,” katanya. Agar berkelanjutan, menurutnya jumlah pengusaha sebaiknya minimal 2% dari total populasi. Penambahan pengusaha baru ini akan mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah pajak yang menyumbang 70% APBN.

“Indonesia memiliki potensi sebagai negara besar,” kata Hary Tanoe. Potensi ini diperkuat dengan populasi terbesar keempat yang dimiliki Indonesia, mayoritas masyarakat muda antara 18-50 tahun. Selain itu, Indonesia juga kaya Sumber Daya Alam dan struktur ekonominya didominasi kelas menengah.

Dengan semua potensi tersebut, sangat disayangkan saat ini pendapatan per kapita Indonesia masih berkisar USD 3600, lebih rendah dibanding Malaysia (USD 11000) dan Singapura (USD 55000).

Hary mengasumsikan, jika pendapatan per kapita Indonesia sama seperti Malaysia yakni USD 11000, maka PDB bisa mencapai USD 2.75 T. Asumsi PDB ini bisa menggeser Perancis yang saat ini bertengger pada posisi kelima dunia yakni USD 2.6 T. Berturut-turut negara dengan PDB terbesar adalah Amerika Serikat (USD 15 T), China (USD 9 T), Jepang (USD 6 T) dan Jerman (USD 3.2 T). Namun sayangnya asumsi ini akan berat dicapai karena tingginya angka korupsi, pengangguran, ekonomi belum stabil dan infrastruktur masih minim.

Kiat Sukses Berusaha

Dihadapan peserta, Hary menyampaikan kiat-kiat untuk maksimal dan sukses dalam profesi apapun baik itu pengusaha, PNS maupun karyawan swasta. “Sebelum bicara kiat, kita perlu memastikan dulu tujuan karier kita,” katanya. Dengan tujuan yang jelas, maka akan tercipta harapan, semangat, motivasi dan kreativitas. Setidaknya ada lima kiat yang ia sampaikan yakni fokus pada kualitas, kecepatan, bergaul pada lingkungan yang tepat, konsisten serta be grateful dan surrender.

Usai menyampaikan kuliah tamu, CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo memberikan uang pembinaan kepada 10 mahasiswa berprestasi, 3 dosen terbaik serta satu doktor termuda.

Courtesy : Prasetya Online

JPC UB Bentuk Forum Komunikasi Pusat Karir Se-Jatim

Sarasehan Pembentukan Forum Komunikasi antar Pengelola Pusat Karir di Perguruan Tinggi se-Jatim

(Sarasehan Pembentukan Forum Komunikasi antar Pengelola Pusat Karir di Perguruan Tinggi se-Jatim)

Job Placement Center (JPC) Universitas Brawijaya (UB) menyeleggarakan Sarasehan Pembentukan Forum Komunikasi dan Penguatan Jaringan antar Pengelola Pusat Karir di Perguruan Tinggi se Jawa Timur, Senin (3/12). Kegiatan yang dipusatkan di UB Hotel ini dihadiri oleh pimpinan PTN/PTS seluruh Jawa Timur.

Ketua JPC dan Tracer Study UB Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Suyadi, MS mengatakan, forum komunikasi antar Pengelola Pusat Karir PTN/PTS se Jatim perlu dibentuk agar informasi mudah didapat. Misalnya informasi mengenai lowongan kerja, pelatihan-pelatihan, seminar, dan workshop.

“Forum komunikasi ini juga untuk merangsang terbentuknya pusat karir perguruan tinggi yang belum memiliki Pusat Karir dan Tracer Study, sehingga perguruan tinggi yang sudah lebih dahulu membentuk Pusat Karir dapat memberi bimbingan dan saran untuk membantu terbentuknya unit tersebut,” papar Prof. Suyadi.

Lebih lanjut dikatakan Prof. Suyadi, pembentukan Pusat Karir dan Tracer Study sangat diperlukan karena keterserapan lulusan perguruan tinggi ke dalam dunia kerja merupakan ukuran mutu perguruan tinggi tersebut.

Dalam acara ini disampaikan beberapa materi yaitu Pengelolaan dan Layanan JPC UB oleh Prof. Suyadi, Pengembangan Karir dan Kewirausahaan di Universitas Airlangga oleh Kepala Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan Universitas Airlangga Dr. Elly Munadzirah, drg.,MS, dan Pembetukan Forum Komunikasi Pengelola Pusat Karir Berbasis IT oleh Kepala SAC ITS oleh Ir. Wiratno A. Asmoro, M.Sc.

Courtesy : JPC UB

Setelah Lulus, Pilih Kerja atau Kuliah S2 ?

20120407_092615_sarjana-1

Para sarjana yang baru lulus kuliah dan cukup beruntung memiliki pilihan, seringkali malah bingung menentukan langkah selanjutnya. Apakah langsung kerja atau melanjutkan S2? Apapun pilihannya, keduanya sama-sama memiliki sisi positif dan negatif. Tinggal kemantapan hati untuk berkomitmen menjalankan apa yang dipilih dengan sungguh-sungguh.

Ketika Langsung Bekerja

Jika Anda memilih untuk bekerja setelah lulus kuliah S1, ada beberapa keuntungan yang dapat Anda peroleh. Yang utama, Anda akan memperoleh pengalaman kerja. Seperti yang kita semua tahu, dunia kerja tidak sama dengan dunia kuliah. Kenyataan di dunia kerja seringkali tidak sama dengan teori yang kita dapat di bangku perkuliahan. Jadi, Anda yang langsung bekerja tergolong beruntung dapat merasakan langsung pengalaman bekerja, suatu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh di dalam kelas.

Anda juga jadi lebih mandiri, dengan memperoleh pemasukan sendiri dan tidak bergantung lagi kepada orangtua. Untuk masa awal bekerja, memang gaji standar fresh graduate tidak sebesar mereka yang telah berpengalaman. Namun setelah satu tahun bekerja, apalagi jika terus bertahan di satu perusahaan yang sama, maka Anda mungkin saja memperoleh kenaikan gaji. Demikian juga untuk di tahun-tahun selanjutnya, umumnya akan ada kenaikan gaji setiap tahun yang persentase kenaikannya tergantung performa kerja.

Setelah bekerjapun, kesempatan kuliah S2 masih terbuka. Ada saja beberapa orang yang beruntung karena dapat menjalani keduanya sekaligus. Anda malahan dapat mencari beasiswa, yang seringkali mensyaratkan adanya pengalaman kerja selama beberapa tahun. Jika Anda termasuk kelompok yang beruntung ini, yang terpenting adalah pembagian waktu yang baik agar seimbang antara perkuliahan dan pekerjaan. Namun pilihan ini juga memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, misalnya waktu istirahat yang berkurang. Ada juga beberapa yang terpaksa memilih salah satunya, karena ada saja kendala yang menghadang. Seperti jadwal kantor yang tidak fleksibel untuk disesuaikan dengan jadwal perkuliahan, lokasi yang berjauhan antara kantor dan kampus, kemacetan di jalan, dan sebagainya.

Sementara itu, tidak peduli berapa lama yang dihabiskan seseorang untuk duduk di bangku kuliah, apakah lulusan S1 atau langsung melanjutkan S2, setiap orang seringkali akan mengalami culture shock saat pertama kali memasuki dunia kerja. Semasa kuliah, seseorang diwajibkan untuk rutin masuk kelas sesuai jadwal dengan aktivitas sehari-hari berupa belajar dan mengerjakan tugas. Jika berhasil memperoleh nilai tinggi, maka Anda tergolong mahasiswa yang pandai. Namun di dunia kerja, Anda nantinya akan dituntut untuk pandai menghadapi masalah. Mahasiswa yang memiliki nilai akademis baik, belum tentu akan mampu menyelesaikan kendala yang dihadapi di dunia kerja dengan efektif. Oleh karena itu, adanya pengalaman kerja diperlukan untuk mengasah keterampilan-keterampilan tersebut, yang nantinya berguna juga dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Melanjutkan S2

Memiliki gelar S2 ada banyak untungnya. Pemahaman Anda akan suatu disiplin ilmu akan dapat semakin dalam. Dalam perkuliahan, akan ada banyak pembahasan kasus-kasus yang banyak terjadi di suatu organisasi. Kesempatan untuk mengembangkan karir juga semakin luas. Dengan kata lain, prospek karir di masa depan yang lebih cerah. Jabatan Anda sebagai seorang lulusan S2 juga tentu akan lebih baik ketimbang mereka yang lulusan S1. Selanjutnya, hal ini berdampak juga ke kompensasi (baca: gaji) yang lebih tinggi.

Dalam membuat keputusan untuk melanjutkan S2, pilihannya adalah sekarang atau nanti. Ada yang ingin memperoleh pengalaman kerja dulu selama beberapa tahun, ada juga yang ingin langsung kuliah S2 karena masih semangat belajar dan khawatir akan malas untuk kembali kuliah jika telah asyik bekerja. Jika pertimbangan Anda untuk langsung melanjutkan S2 adalah lebih baik sekarang daripada nanti, maka ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 selepas meraih gelar sarjana.

Teman-teman kuliah S2 mayoritas sudah bekerja. Ada yang bekerja sebagai karyawan, akademisi, pengusaha, dan sebagainya. Dengan ini, Anda dapat belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Posisi Anda juga relatif sama dengan mereka. Sama-sama mahasiswa dan tidak ada senioritas. Variasi usia menjadi lebih setara. Semuanya sama-sama harus mengikuti peraturan perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Jadi, Anda akan dapat lebih leluasa dan meminimalkan perasaan sungkan ketika berdiskusi dengan mereka. Hal ini juga dapat melatih keterampilan Anda untuk berkomunikasi dengan berbagai tipe orang.

Di sisi lain, pengetahuan Anda dapat saja dipandang masih bersifat teoretis, sedangkan teman-teman yang sudah bekerja pengetahuannya bersifat lebih praktis dan aplikatif di dunia kerja. Misalnya, ketika dosen sedang menjelaskan suatu materi, pola pikir Anda akan suatu kasus lebih ke apa yang seharusnya menurut teori. Sedangkan mereka yang sudah pernah terjun langsung ke dunia kerja, pemaknaannya dapat lebih kaya dan luas.

Anda juga harus mempersiapkan diri untuk menyisihkan waktu sekitar dua tahun untuk tidak bekerja (jika Anda tidak mengambil opsi kerja magang atau part time). Anda akan lebih lambat meniti jenjang karir dibanding teman-teman Anda yang sudah bekerja. Sementara itu di Indonesia, yang dihargai tetaplah pengalaman kerja. Anda yang sudah lulus S2 namun masih belum memilliki pengalaman kerja, tetap dipandang sebagai seorang fresh graduate.

Jika Anda ingin berkecimpung di bidang professional seperti Psikolog, Akuntan, Notaris, dan sebagainya, memang profesi ini mensyaratkan pendidikan S2 agar Anda dapat memperoleh ijin praktek yang dibutuhkan. Namun tetap saja bidang ini juga membutuhkan pengalaman kerja agar Anda lebih paham tentang materi perkuliahan. Sebagai solusi, Anda dapat kuliah S2 sambil kerja. Anda dapat kerja part time atau memilih kuliah di malam hari, agar kuliah S2 dan kerja tetap dapat berjalan.

Demikian pula jika Anda ingin bekerja di bidang akademisi, maka persyaratan pendidikan S2 juga harus Anda penuhi. Khusus bidang ini, semakin cepat lulus S2 sesungguhnya lebih baik, agar Anda dapat lebih cepat mengajar. Namun sebaiknya Anda juga sambil mengasah keterampilan presentasi dan mengajar. Di sela-sela waktu kuliah S2, Anda dapat mendaftarkan diri untuk menjadi asisten dosen.

Jadi.. Yang mana pilihan Anda? Silahkan menentukan prioritas, dengan tidak lupa untuk mempertimbangkan segala dampak positif dan negatifnya ya.

Courtesy : Pascasarjana Universitas Jember

Fresh Graduate : Lagi Cari Kerja? Ini Tipsnya

sarjana bingung

Namanya juga berburu, pasti butuh persiapan. Begitu juga untuk urusan berburu pekerjaan. Pencari kerja harus siap sebelum memulai usaha mereka dalam mendapatkan dan melamar lowongan pekerjaan.

Sebab, proses mencari dan melamar kerja bukanlah kegiatan yang mudah. Terkadang, ada saja kendala yang menghambat kita meraih pekerjaan impian.

Nah, supaya enggak terhambat dalam mencari dan melamar kerja, simak tips berikut seperti dilansir College Cures, Kamis (21/11/2013).

Siapkan berkas lamaran

Enggak semua lowongan pekerjaan sama. Beberapa lowongan membutuhkan surat lamaran atau referensi, sementara lowongan lainnya tidak. Bagaimanapun juga, sangatlah penting menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan sebelum melamar kerja.

Jadi, begitu menemukan lowongan yang tepat, Anda tidak perlu menunggu lama untuk melamar. Perlu diingat, semakin lama Anda menunda untuk melamar, semakin besar kemungkinan Anda kehilangan peluang tersebut.

Biasanya, untuk melamar sebuah lowongan pekerjaan Anda akan diminta menyiapkan surat lamaran, curriculum vitae (CV) dan tiga referensi. Beberapa lowongan ada yang mensyaratkan transkrip nilai dan surat rekomendasi.

Jangan lupa, hubungi terlebih dahulu orang yang Anda minta sebagai referensi sebelum menuliskan nama mereka di kolom referensi. Ini adalah etika umum, sehingga pemberi referensi dapat bersiap jika harus dihubungi via telepon ataupun email tentang permohonan referensi Anda. Biasanya, pemberi referensi adalah seseorang yang dapat memberikan informasi tentang kualifikasi Anda seperti dosen atau atasan.

Tuliskan pengalaman kerja sebelumnya

Jika Anda mengisi lamaran kerja secara online, maka Anda harus menuliskan pengalaman kerja Anda sebelumnya; termasuk alamat, nomor telepon, nomor kontak dan alamat email dari atasan Anda sebelumnya. Jika Anda tidak mengingat semua informasi ini, akan sangat membantu apabila Anda membuat dokumen khusus berisi informasi tersebut yang mudah diakses saat Anda melamar kerja secara online.

Cek lagi

Setiap kali Anda mengirimkan berkas lamaran kerja, luangkan waktu untuk mengecek kembali kelengkapan  berkas Anda. Cek juga penulisan dalam surat lamaran kerja Anda, jangan sampai ada kesalahan ketik atau tata bahasa.

Cek ricek ini sangat penting ketika Anda melamar lebih dari satu lowongan kerja karena kemungkinan salah tulis posisi yang dilamar sangat terbuka lebar; misalnya salah menulis nama perusahaan atau nama pejabat perusahaan yang dituju.

Catat lowongan kerja yang dilamar

Tulis berkas lowongan kerja yang Anda masukkan pada sebuah catatan khusus. Dengan begitu, Anda tidak akan kehilangan jejak telah melamar untuk lowongan apa saja dan perusahaan mana saja. Cantumkan data perusahaan, nama kontak dan nomor telepon atau email dalam daftar tersebut.

Courtesy : Okezone Campuss

Fresh Graduate masih Nganggur? Kerjakan ini Saja Dulu

sarjana bingung

Jika kamu masih menganggur kerja dan khawatir akan ditolak terus-menerus ketika melamar kerja, tidak perlu panik. Menikmati waktu luang selagi sempat menjadi cara ampuh sementara waktu.

Tapi ingat, keadaan ini bukan berarti Anda bisa sekadar duduk santai dan menunggu perusahaan bersimpati untuk menawarkan pekerjaan. Banyak alasan mengapa kamu belum dipekerjakan.

Sebuah perusahaan mempunyai kekhawatiran jika si pencari kerja tidak mempunyai keterampilan yang berkontribusi pada perusahaannya. Tapi, daripada bingung dan suntuk masih memikirkan pekerjaan yang tak kunjung datang, ada beberapa hal kreatif yang bisa kamu lakukan.

Berikut delapan hal yang harus dilakukan saat masih menganggur dan belum juga dipanggil kerja, seperti dilansir dari laman Forbes, Rabu (20/11/2013).20120407_092615_sarjana-1
Ambil kerja paruh waktu atau kontrak

Kuncinya adalah, melihat pekerjaan kamu dan melihat kemampuan yang dilakukan. Jika kamu melakukan pekerjaan untuk sementara atau kerja kontrak, siapa pun yang mempekerjakan kamu, mungkin akan merekomendasikan untuk posisi kerja tetap.

Kursus

Anda tidak pernah berhenti belajar dalam karier, sehingga kompetensi yang dimiliki semakin membaik. Ketika kamu kursus di bidang yang dikuasai, ini menunjukkan bahwa kamu juga serius tentang pekerjaan yang diminati dan juga mempunyai inisiatif. Keuntungan lain dalam kursus ini adalah jaringan besar untuk memperluas pergaulan.

Sukarelawan

Pekerjaan sukarela membuat kamu lebih berharga. Ketika menjadi sukarelawan untuk sesuatu hal, ceritakan aktivitasmu kepada si pewawancara secara pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kamu bersemangat tentang sesuatu dan peduli membantu orang lain sehingga mengesankan bahwa uang bukan hal yang paling penting. Ketika perusahaan mempekerjakan, mereka mencari tidak hanya sekadar bekerja, tetapi juga untuk orang-orang dengan karakter dan integritas.

Memulai bisnis sendiri

Memulai bisnis memang memakan waktu. Jika kamu memiliki sarana untuk melakukannya, itu akan menjadi pemasaran yang bagus. Keuntungan memiliki bisnis sendiri adalah dapat bekerja paruh waktu atau penuh waktu tergantung pekerjaannnya. Anda juga akan belajar keterampilan yang dapat ditularkan, sehingga juga bisa dipakai ketika bekerja untuk orang lain.

Mulai membuat blog

Sebuah blog dapat menjadi cara yang baik untuk memasarkan diri kamu kepada sebuah perusahaan. Mmenunjukkan kepada perusahaan untuk melihat kamu ahli di bidangnya. Selain itu, sampaikan passion kamu dan gali lah banyak pengetahuan. Perusahaan akan melihat potensi kamu sebagai orang yang mempunyai inisiatif selama mencari kerja melalui blog tentang sesuatu yang benar-benar kamu pedulikan tentang karier.

Ikuti berita terbaru seputar pekerjaan

Teknologi informasi, teknik, kesehatan, penjualan, dan layanan pelanggan adalah salah satu area untuk mempekerjakan orang secara nasional. Ikuti selalu berita terbaru mengenai sebuah lowongan pekerjaan.

Gunakan waktu untuk menuangkan ide

Apakah itu ide untuk kampanye pemasaran, aliran pendapatan baru maupun penghematan biaya. Setiap kandidat yang diwawancara dengan ide-ide tersebut menunjukkan bahwa mereka mempunyai passion, berpengetahuan, dan gembira mendapatkan kesempatan.

Membuat koneksi

Surat lamaran kerja langsung diserahkan kepada manajer perekrutan dari seseorang dalam perusahaan. Ini lebih mungkin untuk mendapatkan perhatian dengan membangun dan memperluas jaringan kontak melalui media sosial dan organisasi profesi. Biarkan teman-teman dan keluarga tahu bahwa kamu sedang mencari pekerjaan. Minta lah bantuan kepada mereka dalam menemukan koneksi ke organisasi yang membuatmu tertarik.

Courtesy : Okezone Campuss

Kuliah Vs Kerja

Kuliah atau kerja yang duluan menjadi pertanyaan yang sering kali terlontar dari tamatan SMA dan sederajat, Mau kuliah dulu atau kerja dulu, keduanya tidak ada yang salah. Semua keputusan benar asalkan dijalankan dengan penuh hati. Keputusan yang diambil (kuliah atau kerja) bisa menjadi sebuah kesalahan kalau kita tak ikhlas menjalaninya.Berikut adalah kelebihan dan kekurang masing-masing dari kuliah dan bekerja ;

  1. Kuliah
    Ini yang paling lazim dilakukan banyak orang; setelah lulus SMA langsung melanjutkan kuliah, asalkan tak terbentur biaya biasanya mereka langsung mendaftar di PTN atau PTS favoritnya. Dan berikut adalah keuntungannya;

Lingkungan belajar yang kondusif; kampus adalah tempat yang cocok untuk belajar segala hal dari teori hingga praktek dan kita tak perlu takut untuk bereksperimen dengan apapun. Berbeda dengan lingkungan kantor(kerja) dimana kita dituntun untuk tidak melakukan kesalahan.

Modal Ijazah; setelah kurang lebih 4 tahun kuliah maka kita akan mendapatkan teori perkuliahan dan yang terpenting adalah ijazah. Dengan ijazah maka kemampuan kita diakui oleh negara, selain itu ijazah masih menjadi patokan rata-rata perusahaan dalam merekrut karyawan baru dibandingkan pengalaman kerja.

Berjejaring sosial; Dengan lingkungan kampus yang di dalamnya terdapat banyak orang dan waktu kuliah yang lebih sedikit dibandingkan saat bekerja(8 jam sehari) maka kita lebih mudah membangun jaringan pertemanan dibanding bila sudah bekerja kantoran.

  1. Kerja
    Berbeda jika kita memulai dengan kerja terlebih dulu baru kuliah, biasanya hal ini dilakukan secara simultan; bekerja untuk membiayai kuliah sehingga saat lulus, selain ijazah kita pun sudah mendapat pengalaman kerja. Beberapa keuntungan bila bekerja adalah:Belajar dari pengalaman; bekerja bisa dibilang membuktikan teori yang kita pelajari di kuliah, tanpa mempelajari teori mungkin kita akan lebih sulit dalam bekerja namun itu bukanlah sebuah kekurangan karena pengalaman adalah guru terbaik.Pengalaman kerja; sudah tentu bekerja memberikan pengalaman berbeda yang bisa menjadi keunggulan tersendiri dibanding mereka yang masih duduk dibangku kuliah. Mendapatkan pengalaman kerja, artinya selangkah lebih maju dibandingkan mahasiswa lainnya.Jenjang karir; setiap orang memulai jenjang karirnya dari bawah lalu perlahan naik. Bila kita memulai meniti karir lebih awal maka harusnya kita dapat mencapai jenjang atas lebih dulu dibandingkan orang lain. Berbeda dengan lulusan kuliah tanpa pengalaman kerja, biasanya mereka mesti meniti dari bawah.

Apapun pilihanmu; bekerja baru kuliah atau kuliah lalu bekerja, semua baik untuk dilakukan. Karena kesuksesan tidak melulu datang dari bangku sekolah dan ingat pula bahwa hanya sedikit orang yang putus sekolah atau tidak kuliah lalu sukses di dunia.

Bill Gates memang putus kuliah, Bob Sadino juga tidak selesaikan sekolahnya tapi mereka gigih berjuang untuk ‘membalas’ kekurangan mereka di bangku sekolah/kuliah dan akhirnya pun mereka sama bahkan lebih baik dari orang yang sekolah/lulus kuliah.

Intinya adalah kuliah untuk menunjang pekerjaan yang lebih baik, sedangkan bekerja untuk membiayai kuliah untuk tingkat lanjut. Namu jika pandai membagi waktu Bagusnya  itu kuliah sambil kerja. Karena jika misal lulusan sma bekerja sambil kuliah D3, maka ketika lulus D3, normalnya otomatis kantor memberi promosi jabatan alias naik jabatan. Dan seterusnya S1 ( naik jabatan lagi ), namun tetap saat bekerja kuliah tidak dinomorduakan meski kerja jadi prioritas.

Courtesy : loker.web.id

Tips Saat Interview

Tips Interview

1. Konfirmasikan waktu dan tempat interview sehari sebelumnya. Setelah konfirmasi diperoleh, anda dapat mengatur waktu untuk besok, misalnya memperkirakan jumlah waktu dan jarak yang ditempuh untuk mencapai tujuan dan menggunakan apa, kemungkinan macet, dsb.

2. Pakai pakaian formal Penampilan dan tingkah laku anda akan diperhitungkan oleh interviewer, jadi jangan lupa mengenakan setelan jas terbaik yang anda punya. Tunjukkan rasa percaya diri lewat eye contact, jabatan tangan yang erat, dan sesekali senyum.

3. Temukan informasi tentang calon pemberi kerja Informasi yang ingin anda dapatkan diantaranya sifat interview; one-on-one atau panel interview? Perlukah membawa contoh hasil kerja anda? Jika ada tes/ ujian, bagaimana bentuknya? Informasi berikutnya yang harus anda punya adalah informasi tentang perusahaan, mungkin dari promotional brochure/ booklet atau lebih baik lagi dari seseorang yang bekerja di perusahaan tersebut.

4. Antisipasi pertanyaan lewat persiapan. Pertanyaan biasanya diambil dari kategori personality anda, sejarah kerja anda, pengalaman dan keahlian khusus, perusahaan dan pekerjaan. Interviewer akan mencoba memahami personality anda; Apa alasan anda meninggalkan pekerjaan anda? Apa yang anda ketahui tentang perusahaan mereka dan apakah anda yakin mampu memenuhi requirement pekerjaan yang anda incar? Posisikan diri anda sebagai interviewer, apa yang akan anda tanyakan? Diskusikan jawaban anda dengan teman.

5. Jangan takut-takut. Tegaskan pendirian anda Seorang interviewer bisa mewawancarai puluhan pelamar kerja setiap harinya. Yang akan dia ingat adalah pelamar yang stand out dan bisa menyampaikan pendapat dan pendiriannya secara menarik. Maka sebaiknya anda meluangkan waktu terlebih dulu untuk menuliskan poin yang menjadi kekuatan dan keterampilan serta prestasi anda, supaya anda lebih siap ketika mempresentasikan diri anda di depan calon employer.

6. Bersiaplah karena mereka mungkin akan bertanya lebih banyak. Pastikan jawaban anda fleksibel dan dapat dikembangkan. CV/ Resume anda kemungkinan besar sudah menyediakan jawaban yang mereka butuhkan, namun mereka akan tetap bertanya untuk menguji kemampuan anda dalam berkomunikasi. Ketika menjelaskan jawaban anda, pastikan jangan sampai terlalu panjang atau menyimpang dari konteks pertanyaan.

7. Lakukan latihan sebelum presentasi. Jika anda diminta untuk mempresentasikan materi anda, jaga contentnya agar tetap sederhana namun tegas. Jangan terlalu cepat selesai atau terlalu panjang dalam memberikan jawaban. Meluangkan waktu untuk berlatih di depan cermin akan membantu timing anda ketika menjabarkan jawaban.

8. Tanyakan yang perlu dan pertimbangkan jawaban mereka. Biasanya di akhir interview anda akan diberikan kesempatan untuk bertanya. Jangan tiba-tiba membombardir mereka dengan pertanyaan-pertanyaan, namun jangan pula menjawab tidak ada. Karena saat itu merupakan kesempatan anda untuk mendengar jawaban langsung tentang, misalnya, program pelatihan terkait pekerjaan yang anda inginkan atau kesempatan berkarir.

9. Bawa catatan kecil. Jangan malu-malu untuk menulis jawaban yang diberikan interviewer karena selain terlihat profesional, catatan tersebut mungkin berguna ketika anda dipanggil lagi. Catatan itu juga akan membantu anda mengambil keputusan ketika anda mendapatkan beberapa tawaran kerja.

10. Lakukan follow-up setelah interview selesai. Ketika anda hendak meninggalkan ruangan interview, jangan lupakan eye contact dan senyum. Jika anda tertarik dengan pekerjaan tersebut, kirimkan surat dalam waktu 24 jam yang menyatakan minat anda tersebut. Dalam perjalan pulang, sempatkan untuk menulis draft surat tersebut dengan memanfaatkan catatan dan memori anda selagi masih segar. Dengan mengirimkan follow-up letter secepat mungkin akan menunjukkan minat dan kesungguhan anda dan dapat memberikan nilai tambah sendiri di mata interviewer.

Courtesy : loker.web.id

Berapa Gaji yang “Harus” Saya Minta?

Berapa Gaji yang Harus Saya Minta? Bagian yang paling merepotkan dalam proses wawancara kerja adalah menjawab pertanyaan mengenai gaji yang diminta. Banyak orang merasa “serba salah”, menyebut angka yang terlalu rendah takut dianggap kualitas juga rendah, menyebut angka terlalu tinggi, khawatir perusahaan tidak mampu membayar sehingga menyebabkan yang bersangkutan tidak jadi diterima. Saran yang sering terdengar, sebutlah angka yang standar. Ini juga tak kalah ribetnya: yang standar itu seberapa? Belum lagi kesan yang muncul bahwa orang yang menjawab sesuai standar berarti tidak memahami keunggulan dirinya. Bukan Tabu Saat ini, negosiasi mengenai gaji tidak lagi dipandang tabu oleh sebagian besar perusahaan, namun Anda diharapkan mengumpulkan informasi dulu agar dapat bernegosiasi dengan baik. Lakukan survei terlebih dahulu, sampai sejauh yang bisa Anda lakukan.Survei

Cek ke teman atau teman dari teman yang mempunyai pekerjaan sejenis di perusahaan yang sejenis. Apabila Anda tidak bisa memperoleh data yang diinginkan, carilah informasi mengenai gaji dari pekerjaan lain yang satu level dalam tingkatan korporasinya, tapi di perusahaan sejenis, atau pekerjaan sejenis di perusahaan yang berbeda jenis atau skala.

Tiga Faktor

Perlu diingat, pekerjaan sejenis di perusahaan sejenis juga belum tentu mewakili nilai (gaji) yang sama. Gaji ditentukan oleh 3 faktor: harga pekerjaannya, harga orang yang memegang jabatan atau pekerjaan tersebut, dan harga pasar. Cari tahu juga, apakah gaji tersebut merupakan harga pekerjaannya sendiri atau harga pemegang jabatannya.

Tentukan BATNA Anda

Apa itu? Best Alternative to a Negotiated Agreement. Caranya:

Pertama, cek diri sendiri, apakah Anda pindah karena gaji, karir, ketenangan kerja, stabilitas atau hal lain. Kalau Anda pindah bukan karena alasan gaji, maka gaji tidak perlu terlalu difokuskan dalam negosiasi, yang berarti permintaan bisa berkisar dari 0-10% dari gaji sekarang. Seandainya gaji menjadi faktor penting buat Anda dan menjadi motif Anda pindah kerja, maka Anda perlu kombinasi antara peningkatan 10%-25% dari gaji sekarang dengan hasil survei Anda. Seandainya hasil survei Anda menemukan bahwa standar di luar sana jauh lebih besar, katakanlah 50% dari gaji Anda, bukan berarti Anda bisa langsung mengajukan angka. Dan, hasil survei yang lebih bisa dipakai adalah harga pekerjaan, bukan harga pemegang jabatannya.

Persepsi Perusahaan

Kedua, ingat selalu: persepsi perusahaan mengenai tingkat kemampuan Anda antara lain ditentukan oleh seberapa tinggi gaji Anda sekarang. Jadi, mereka bisa saja melihat Anda sebagai seseorang yang sedang mencari “peruntungan” dengan meminta gaji lebih tinggi. Efektifnya adalah “win-win”: Anda bisa menentukan nilai tengah dari jangkauan 10%-50% (sekitar 30%-35%). Dan, inilah cara Anda menentukan BATNA: tentukan harga yang hendak Anda minta, tentukan bottom-line Anda apabila terjadi negosiasi, dan stick to it. Artinya, Anda bisa dengan percaya diri meminta, dan berani walk away apabila tidak sesuai dengan permitaan Anda.

Tips Lanjutan (1)

Jadi, “Berapa gaji yang Anda minta?” Rahasianya bukan pada angkanya, tapi kalimat yang membungkus permintaan Anda tersebut. Misalnya, “Saya akan sangat senang apabila memperoleh gaji Rp…, tapi Bapak/Ibu tentu sudah melihat CV saya dan mempunyai gambaran sendiri mengenai nilai yang bisa saya kontribusikan ke perusahaan ini, dan tentunya Bapak/Ibu yang tahu bagaimana kemampuan dan harapan saya bisa cocok dengan standar perusahaan ini, jadi saya akan sangat senang apabila bisa mendengar juga dari Bapak/Ibu, kira-kira berapa yang ditawarkan kepada saya.”

Tips Lanjutan (2)

Apabila pertanyaan tentang gaji ini muncul terlalu awal, ada baiknya Anda tidak langsung menjawab. Kalau ini terjadi, Anda justru mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menunjukkan citra profesional Anda! Katakanlah, misalnya, “Apabila Bapak/Ibu tidak berkeberatan, saya ingin tahu lebih jauh dulu tentang peran dan tanggung jawab pekerjaan saya sebelum menjawab pertanyaan ini. Saya belum mendapat atau merasakan gambaran utuhnya.”

Kesimpulan

Jadi: lakukan survei, tentukan BATNA, bungkus permintaan Anda dengan citra yang baik, dan ungkapkan pada saat yang tepat!

Courtesy : portalhr.com

Sarjana Jangan Nganggur, Buka Usaha!

Lepas kuliah, tak jarang banyak dari para sarjana merasa kesulitan mencari pekerjaan. Namun setelah resmi menyandang gelar, tak melulu harus mencari kerja.

Seperti diungkapkan calon Wakil Presiden Republik Indonesia, Hary Tanoesoedibjo (HT), yang mengatakan jika mahasiswa yang baru saja lulus sebaiknya menjadi pengusaha.

“Setelah lulus jangan jadi pencari kerja, tetapi jadilah pengusaha. Indonesia membutuhkan pengusaha setidaknya dua persen dari jumlah penduduknya untuk menjadi negara yang maju,” kata HT, saat menjadi pembicara dalam kuliah umum di RRI, Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (9/9/2013).

Pria yang memimpin lebih dari 23 ribu karyawan di bawah bendera MNC Group tersebut menuturkan, saat ini banyak sarjana yang menganggur karena lapangan pekerjaan sedikit.

Oleh karena itu, dia mengajak seluruh mahasiswa untuk belajar membuka usaha sendiri sehingga dapat mandiri setelah menamatkan kuliahnya. Hary pun mengungkapkan sejumlah tips sukses yang berhasil diterapkan dalam dirinya.

Pertama adalah fokus pada kualitas; kedua, kecepatan dalam bekerja; ketiga, instropeksi diri; keempat, bergaul dengan lingkungan yang tepat; kelima, sabar untuk kosisten. “Ambil bagian kita, lakukan yang terbaik. Soal hasilnya itu urusan Tuhan,” kata pria yang akrab dipanggil HT tersebut.

Indonesia, lanjut Hary, merupakan negara terunik di dunia. Memiliki pulau terbanyak yaitu sebanyak 17 ribu lebih. Dengan suku bangsa yang juga besar, lebih dari 700 suku. Memiliki bahasa terbanyak yaitu lebih dari 500 bahasa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Belum lagi sumber daya alam yang sangat besar dan ditunjang populasi yang juga besar di mana didominasi usia produktif.

“Apa yang salah dari semua ini? Kita punya semuanya tetapi pemanfaatannya masih tidak maksimal,” tegas Hary.

Dia berpesan kepada ratusan mahasiswa untuk menjadi generasi yang mandiri dengan menjadi pengusaha. Mereka tidak perlu bergantung pada jumlah lapangan pekerja, namun justru harus menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Sekadar diketahui, HT menjadi pembicara yang dihadiri ratusan mahasiswa yang berasal dari Universitas Negeri Padang, Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta, IAIN, Taman Siswa, dan berbagai universitas lain di Sumbar.

Courtesy : Okezone

Apa Sih yang Dicari dari Fresh Graduate?

Kesulitan mendapatkan pekerjaan menjadi persoalan utama yang harus dihadapi para lulusan perguruan tinggi. Sebenarnya, apa yang dicari oleh pihak industri dalam diri fresh graduate?

Human Resource (HR) PT Kideco Jakarta Ochlis menyatakan, sebelum bertanya apa yang dibutuhkan oleh pihak industri, para pencari kerja justru harus bertanya pada diri sendiri tentang pekerjaan yang diinginkan. Ochlis menyebut, penting untuk melihat kesesuaian pendidikan dengan lowongan pekerjaan yang ditawarkan.

“Pertama, mereka harus tahu apa yang dicari. Jangan lulusan industrial maksa melamar di posisi pertambangan. Itu kan tidak akan cocok dengan kebutuhan yang dicari,” papar Ochlis ketika berbincang dengan Okezone di Universitas Indonesia (UI) Career & Scholarship Expo XVI 2013, Depok, Sabtu (14/9/2013).

Kemudian, kriteria lain yang dicari oleh industri adalah karyawan yang cepat beradaptasi. Sebab, lingkungan kerja yang sama sekali berbeda dengan perkuliahan. Jika tidak mampu menyesuaikan diri maka orang tersebut akan kalah dengan mudah.

“Mereka harus siap perubahan. Karena kalau di kami (PT Kideco), mereka akan ditempatkan di luar kota, seperti Kalimantan. Pintar perlu tapi cerdas harus karena kami butuh mereka cepat beradaptasi dan mampu menghadapi tekanan,” ungkapnya.

Ochlis tidak menampik jika soft skills lulusan perguruan tinggi masih terbilang kurang. Namun, katanya, masalah tersebut bisa diatasi dengan berbagai pelatihan baik yang dilaksanakan oleh kantor maupun secara mandiri.

Soft skills kurang bisa dibentuk lewat pelatihan selama yang bersangkutan mau belajar. Seperti waktu itu kami butuh skill insinyur orang itu tapi ternyata dia gagap teknologi (gaptek). Tapi kalau attitude yang kurang, itu yang susah diubah,” kata Ochlis.

Courtesy : Okezone