Fitur Baru Google Maps, Jelajahi Mars dan Bulan

https://i1.wp.com/static.parade.condenast.com/wp-content/uploads/2013/12/going-to-mars-ftr.jpg

JalanTikus.com – Bukan Google namanya kalau tidak bisa mengeluarkan invovasi-inovasi terbaru nan-canggih. Kali ini Google menerapkannya ke salah satu produk mereka, yakni Google Maps.

Tidak hanya Bumi, sekarang Google sudah menambahkan Planet Mars dan Bulan ke dalam Wilayah Jelajah Google Maps, keren bukan? Sehingga buat kamu yang penasaran dengan Planet Mars dan Bulan, bisa langsung membuka Google Maps.

Meskipun pemetaannya belum mendetail seperti Google Maps di Bumi, namun setidaknya bisa memberi gambaran seperti apa Planet Mars dan Bulan tersebut.

Mau tau caranya? Berikut panduannya

  1. Buka https://maps.google.com, Lalu aktifkan “Earth View” seperti gambar berikut
  2. Setelah tampilan Bumi terbuka, lakukan “Zoom out” sejauh mungkin hingga bentuk bulat bumi terlihat sempurna.
  3. Kemudian, perhatikan di Pojok Kanan Bawah halaman Google Maps, disitu ada tombol “Explore / Jelajah” – Klik tombol itu
  4. Setelah menekan tombol itu, harusnya Planet Mars dan Bulan sudah muncul dipilihan itu.

 

 

Advertisements

Mahasiswa FTP Ciptakan Detergen dari Getah Biduri

detergen

Penggunaan zat aktif surfaktan Alkil Benzena Sulfonat (ABS) dan Linear Alkil Sulfonat (LAS)  pada produk pembersih detergen diketahui menimbulkan dampak negatif bagi makhluk hidup. Sebab zat tersebut adalah bahan aktif berbahaya yang sulit diuraikan oleh mikroorganisme sehingga dapat mencemari lingkungan khususnya air sungai dan bahkan menyebabkan kematian pada biota laut. Selain itu, kandungan ABS dan LAS pada deterjen juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan akibat residu cemaran yang masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan iritasi kulit.

Seiring pertumbuhan penduduk, pemakaian detergen akan terus meningkat yang berarti berpotensi memperparah pencemaran lingkungan. Inilah yang melatar belakangi kelima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), Devy Setyana, M.Arham, Sugiyati Ningrum, Anggi Nurvianti dan Nur Oktavia Suci dibawah bimbingan Endrika Widyastuti S.pt. M.Sc. MP. dan Nur Ida Panca STP. MP.  menciptakan deterjen alami berbahan ekstrak getah biduri (Calotropis gigantae) dengan teknologi nano bernama “Bio-Nano Surf” pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P).

Dipaparkan ketua tim, Devy Setyana yang merupakan mahasiswa jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP FTP) angkatan 2010, ini kelompoknya sengaja memilih getah tanaman biduri karena memiliki kandungan saponin dan enzim protease yang mampu bertindak sebagai deterjen alami.

“Saponin adalah jenis glikosida yang dapat membentuk buih dalam air serta dapat mengangkat kotoran dan menurunkan tegangan air, sedangkan protease adalah enzim yang dapat merombak protein. Dengan demikian keberadaan enzim protease dapat membantu kinerja saponin dalam membersihkan noda karena kemampuannya dalam memecah protein yang merupakan salah satu komponen utama kotoran pakaian,” kata Devy menuturkan.

Devi menambahkan biduri merupakan tanaman lokal Indonesia yang ketersediaannya cukup melimpah. Tanaman ini termasuk mudah tumbuh dan tidak bersifat musiman tapi masih minim pemanfaatan. Bahkan sebagian masyarakat masih menganggap hama karena mengandung kalsium oksalat yang menyebabkan gatal – gatal. Padahal dengan netralisasi menggunakan HCl pada konsentrasi aman sebesar 0,2–1% sebenarnya hal itu dapat diatasi sehingga kita bisa mengambil manfaat dari saponin dan protease yang dimilikinya,” jelasnya lebih lanjut.

Proses pembuatan deterjen alami ini menggunakan nanoteknologi sebagai suatu rekayasa molekuler yang mengubah partikel berskala nanometer. Nanoteknologi ini akan meningkatkan kemampuan deterjen untuk membersihkan noda. Hal ini dikarenakan makin kecil partikel akan makin memudahkan masuk ke serat kain terkecil. Selain itu partikel nano yang berukuran kecil juga akan meningkatkan daya degradasi deterjen sehingga lebih  mudah diurai oleh mikroorganisme.

Proses nanofikasi ini menggunakan freeze drying (mesin pengering beku pada suhu minus-red)  yang mampu mengecilkan partikel deterjen sampai 800 nanometer. Teknologi ini juga memungkinkan terbentuknya kristalisasi ekstrak getah biduri sehingga menjadi bubuk.

Setelah mengalami proses pengujiian yang dilakukan dengan mencuci noda coklat pada kain dengan perendaman 5 menit dan pengucekan 1 menit, terbukti deterjen alami berbahan getah biduri ini mampu menyamai kemampuan deterjen komersial. Selain itu dilakukan pula uji toksisitas dan nilai baku mutu limbah deterjan untuk menguji tingkat biodegradable (kemampuan terurai di alam-red) pada deterjen alami getah biduri. Terbukti nilai baku mutu limbah deterjen getah biduri lebih rendah dari batas maksimum ketetapan baku mutu limbah pada deterjen komersial sehingga lebih ramah lingkungan.

Saat ini hasil penelitian “Bio-Nano Surf”  sudah didaftarkan untuk memperoleh hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan akan diikutkan pada konverensi ilmiah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Selandia Baru.

Courtesy : Prasetya Ub

Puasa Ramadhan Bisa Mengoptimalkan Kualitas Sistem Imun Tubuh

Ardik Lahdimawan, dr. Sp.BS dalam promosi dokter di Gedung FK lantai 6, Sabtu (28/6).

Ardik Lahdimawan, dr. Sp.BS dalam promosi dokter di Gedung FK lantai 6, Sabtu (28/6).

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 jumlah orang islam yang menderita TB sekitar 370 orang. Penderita TB dalam perjalanannya membutuhkan waktu lama untuk pengobatannya. Sehingga tidak menutup kemungkinan selama proses pengobatan, penderita TB punya kewajiban untuk menjalankan puasa sebulan penuh. Puasa yang dijalankan oleh penderita TBC ternyata mampu meningkatkan sistem imun tubuh dalam membunuh patogen Mycobacterium tuberculosis yang merupakan salah satu dari agen penyebab TB. Demikian pemaparan Ardik Lahdimawan, dr. Sp.BS dalam promosi dokter di Gedung FK lantai 6, Sabtu (28/6).

Dalam disertasinya yang berjudul “Puasa Ramadhan Eustress Mengoptimalkan Kuantitas Dan Meningkatkan Kualitas Sistem Imun Tubuh Dalam Mencegah Infeksi Mycobaterium Tuberculosis”, mengatakan bahwa puasa ramadhan merupakan stressor  karena menimbulkan stress perception yang terjadi pada keadaan ibadah khusus yang mengubah kebiasaan sehari-hari, sehingga pelaksanaan puasa ramadhan akan merespon stressor tersebut. Respon tubuh terhadap kondisi stress dapat berupa perubahan endokrin, perubahan sistem  saraf, perubahan imunologi baik seluler atau humoral.

Puasa Ramadhan eustress yang ditandai meningkatnya beta-endorfin serum, PBMC dan makrofag pada hari ke-7 dan hari ke-21, endocannabinoid serum dan PBMC pada hari ke-7 dan hari ke-21, mengoptimalkan kuantitas sistem imun yang ditandai peningkatan TNF-alpha makrofag pada hari ke-7, iNOS PBMC dan makrofag pada hari ke-7 dan hari ke-21,serta penurunan SOD makrofag secara signifikan pada hari ke-7, sehingga meningkatkan kualitas sistem imun yang ditandai peningkatan kemampuan daya bunuh serum pada hari ke-7, PBMC dan makrofag pada hari ke-7 dan hari ke-21 dalam mencegah infeksi Mycobacterium tuberculosis.

Puasa ramadhan eustress memiliki efek atau pengaruh yang menguntungkan terhadap sistem imun dimana sistem imun tubuh dalam kondisi siaga secara fisiologis yang ditandai oleh optimalnya kuantitas dan meningkatkan kualitas.

Selain itu, puasa ramadhan eustress dapat mengurangi resiko dan dapat mencegah infeksi TB pada subyek sehat.

Courtesy : Prasetya UB

AKULUGU, Ekstrak Kulit Ubi Jalar Ungu untuk Atasi Diabetes Mellitus Karya Mahasiswa UB

AKULUGU, Ekstrak Kulit Ubi Jalar Ungu untuk Atasi Diabetes Mellitus Karya Mahasiswa UB
AKULUGU, Ekstrak Kulit Ubi Jalar Ungu untuk Atasi Diabetes Mellitus Karya Mahasiswa UB

Diabetes mellitus merupakan penyakit yang tingkat bahayanya sangat tinggi. Diabetes mellitus merupakan penyakit kelainan metabolik yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia  atau peningkatan yang tidak normal kadar gula darah yang diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin maupun keduanya.  Oleh karena itu orang yang menderita diabetes mellitus diharuskan untuk mengontrol asupan gula dan harus melakukan pola hidup sehat. Beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu mengkonsumsi makanan rendah gula atau yang mampu mengurangi dan mengontrol kadar gula dalam tubuh.

Dari masalah tersebut, lima mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang terdiri dari Akbar Setyo Pambudi dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) bersama Yani Rahmawati, Ajeng Nawangwulan, Nabillah Hisyam, Kinanti Mahmud Pradita yang berasal dari Fakultas Kedokteran (FK) dibawah bimbingan Prof. Dr. dr. M. Rasjad Indra, MS. berinisiatif membuat terapi dalam mengatasi Diabetes mellitus. Melalui Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Penelitian yang diadakan oleh DIKTI, mereka memanfaatkan kulit ubi jalar ungu (Ipomea batatas L) dalam mengatasi masalah Diabetes Mellitus.

Potensi dari kulit ubi jalar sangat melimpah karena produksi ubi jalar ungu di Indonesia menduduki peringkat ke-3 dunia. Berdasarkan hasil survei dari BPS tahun 2011 produksi ubi jalar ungu di Indonesia mencapai 2.172.437 Ton.  Selain itu industri pengolahan ubi jalar ungu juga tumbuh banyak di Indonesia. Namun sayangnya potensi ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Hal tersebut disebabkan karena pada industri pengolahan ubi jalar ungu, hanya umbinya saja yang dimanfaatkan.

lima mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang terdiri dari Akbar Setyo Pambudi dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) bersama Yani Rahmawati, Ajeng Nawangwulan, Nabillah Hisyam, Kinanti Mahmud Pradita yang berasal dari Fakultas Kedokteran (FK)
lima mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang terdiri dari Akbar Setyo Pambudi dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) bersama Yani Rahmawati, Ajeng Nawangwulan, Nabillah Hisyam, Kinanti Mahmud Pradita yang berasal dari Fakultas Kedokteran (FK)

Saat ini limbah kulit ubi jalar ungu sering dianggap sebagai sampah dan masih belum dimanfaatkan secara maksimal di bidang medis. Padahal kulit ubi jalar ungu ini kaya akan senyawa antosianin yang berpotensi digunakan untuk terapi diabetes mellitus. Antosianin tersebut dapat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensivitas Insulin pada penderita diabetes mellitus tipe 2.

Perlu diketahui bahwa antosianin adalah senyawa yang rawan rusak akibat proses termal. Oleh karena itu perlu adanya pengolahan khusus agar dapat mempertahankan kandungan antosianin dalam kukit ubi ungu. Pengolahan yang dapat dilakukan adalah mengekstraksi kulit ubi jalar ungu dengan Microwave Assisted Extraction (MAE). Ekstraksi dengan MAE memiliki keunggulan tersendiri yaitu mengekstrak senyawa yang labil terhadap panas, laju ekstraksi yang lebih tinggi dan waktu ekstraksi yang lebih singkat dibandingkan dengan konvensional. Sehingga dengan metode MAE senyawa antosianin pada kulit ubi jalar ungu dapat lebih dipertahankan dari kerusakan.

Dari studi in vivo yang telah mereka lakukan yaitu dengan cara menguji pemberian ektrak kulit ubi jalar ungu terhadap tikus yang dibuat diabetes, diperoleh hasil bahwa ekstrak kulit ubi jalar ungu dapat menurunkan gula darah secara signifikan serta mampu meningkatkan sensitivitas insulin. Antosianin dapat memperbaiki kondisi peningkatan kadar gula darah dan sensitivitas insulin melalui aktivasi AMP-activated protein kinase (AMPK).  Aktivasi ini diikuti oleh peningkatan ekspresi GLUT 4 yang kemudian dapat meningkatkan uptake glukosa ke dalam jaringan. Pada kasus ini perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai kapan dan berapa lama AMPK dapat di aktifkan mengingat masih terbatas informasi yang tersedia.Adanya manfaat kulit ubi jalar ini maka tidak salah jika kita mengkonsumsinya untuk menjaga keseimbangan gula darah pada diabetes mellitus. Harapan dengan adanya hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi masalah Diabetes mellitus di Indonesia.

Prasetya UB

Alat Pasteurisasi Jus dari FTP UB

AISI PRO (Automatic Juice Pasteurisation)

AISI PRO (Automatic Juice Pasteurisation)

Tingginya potensi buah di Indonesia tidak berbanding lurus dengan daya tahan beragam produk olahannya. Salah satu produk olahan buah yang mudah dan paling banyak peminatnya adalah jus atau sari buah. Namun pengolahan dengan cara yang sudah umum tidak dapat mempertahankan kesegaran jus buah. Inilah yang mendasari dibuatnya alat Automatice Juice Pasteurization (AISI PRO) oleh tiga orang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya.

Alat yang dirancang dan dibuat oleh Agung Heru Yatmo, Indrawan Cahyo Adileksono dan M.Bagus Widyatma ini menggunakan arus listrik untuk mengawetkan jus atau olahan sari buah. “AISI PRO berbasis Ohmic Heating, metode pemanasan menggunakan aliran listrik secara langsung. Untuk mencapai suhu 80 derajat hanya dibutuhkan waktu sekitar 64 detik”, ujarnya.

Menurut Agung, produk olahan jus tidak bisa disamakan. “Buah dengan kadar keasaman (Ph) dibawah 4 lebih mudah bercampur ragi dan jamur, pemanasannya butuh 60-80 detik. Sedang buah dengan Ph diatas 4 lebih tahan lama”, ujarnya.

AISI PRO adalah produk Program Kreatifitas Mahasiswa Karya Cipta. Dengan waktu pembuatan 2 bulan, alat ini mampu menjaga kandungan vitamin dalam jus tidak berkurang banyak atau bahkan hilang. “Dalam 100 ml jus manga, vitamin yang terkandung sekitar 6.59 mg, setelah dipanaskan masih menyimpan 6,48 mg”,ujar Agung. Melalui alat ini, Agung berharap dapat mengurangi penggunaan pengawet dan meningkatkan daya simpan olahan jus buah.

Courtesy : Prasetya Online

Tiga Mahasiswa FPIK Gagas Nusantara Park Undewater di Pulau Sebatik

Tim FPIK UB raih Juara Tiga setelah tawarkan Nusantara Park Underwater
Tim FPIK UB raih Juara Tiga setelah tawarkan Nusantara Park Underwater

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki potensi pariwisata yang besar untuk dikembangkan. Salah satu pulau yang memiliki potensi tersebut adalah Pulau Sebatik yang berada di daerah perbatasan.

“Selama ini Pulau Sebatik lebih difokuskan pada kegiatan perdagangan, padahal ada potensi pariwisata yang besar untuk dikembangakan yaitu pariwisata bawah laut berbasis bio rock,” ungkap Euis Zulfiaty kepada PRASETYA Online.

Euis berserta  dua temannya, Citra Nilam Cahya dan Siti Aniqatul Munamaze mendapatkan penghargaan Juara Ketiga atas konsep yang ditawarkan pada Lomba Karya Tulis Nasional Psp Competition 2014 Universitas Hasanuddin pada Senin (28/5).

“Kami menggagas konsep pariwisata bawah laut dibantu pembimbing kami yaitu Ir. Sukandar, MP bertema Nusantara Park Undewater Wisata Bahari Berbasis Bio Rock Sistem dengan Ikon-Ikon Nusantara di Pulau Sebatik di Kalimantan Timur Guna Penguatan Kawasan Perbatasan,” jelasnya.

Konsep Bio Rock ini akan diterapkan di sekitar pulau sebatik dengan membentuk terumbu karang menjadi ikon-ikon bangunan nusantara seperti candi borobudur, prambanan, tugu monas dan ikon bangunan lain. Harapannya dengan adanya konsep ini selain menjadikan Sebatik sebagai pariwisata juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar.

Courtesy : Prasetya UB

Menghitung Passing Grade SNMPTN dan SBMPTN

20120407_092615_sarjana-1

Ada bberapa kesalahan dalam memahami passing grade untuk tiap-tiap jurusan dalan PTN. Adapun kesalahannya adalah:

# Pada dasarnya, PTN manapun tidak akan memberikan bocoran tentang passing grade kepada pihak-pihak tertentu. So, passing grade yang kita ketahui ini adalah buatan bimbel yang sengaja dibuat untuk acuan kelulusan atau kemampuan dalam menjawab soal.

# Passing Grade adalah sesuatu yang sifatnya Dinamis. Artinya, setiap periode SNMPTN memilikistandar tersendiri untuk jurusan-jurusan tertentu setiap tahunnya.

#Sejatinya passing grade bukanlah standart kelulusan dalam SNMPTN, tapi keketatan karena SNMPTN bertujuan untuk menyeleksi yang baik dari yang terbaik, bukan menilainya.

Ada cara untuk menghitung passing grade dalam menjawab soal-soal SNMPTN tahun lalu atau Try Out untuk menghadapi SBMPTN.

Contonya anda mengerjakan Soal SNMPTN tahun lalu, dan kemudian cocokkan jawaban dengan kunci jawaban yang tersedia.

Terus hitung passing grade anda dengan rumus berikut:

Passing Grade = (B x 4) – ( S x 1) x 100

                                     JS x 4

Keterangan:

B = Jumlah jawaban benar

S + Jumlah jawaban salah

JS = Jumlah soal

Passing Grade SNMPTN Paijo

Contohnya:

Hari pertama (materi dasar), Paijo menjawab 25 Soal SBMPTN dengan benar dan 25 soal dengan salah, dan 25 soal tidak dijawabnya.

Cara menghitungnya:

 (25×4) – (25×1) x 100  = 25

75 x 4

Courtesy : Tentang SNMPTN

Lost At Sea? Survive With These Tricks

A handy manual to prepare you for life’s misadventures. MANUAL_survival 01

illustrations by Chris Philpot

Jose Salvador Alvarenga was fishing off the coast of Mexico in late 2012 when a powerful storm sent his boat adrift. Marshall Islanders found the battered vessel nearly 16 months later, stuck on a reef—with Alvarenga still alive inside. Rainwater and a diet of fish and turtle sustained him (or so he told the press). Curious how DIY savvy could stave off disaster, we asked Frances and Michael Howorth, authors of The Sea Survival Manual, for advice.

Shelter: Don’t discard any clothing; multiple layers can keep you warm during cold nights. On hot days, drape or prop clothes overhead.

Water: Never drink seawater. If you have a raincoat, detach the hood and use it to catch and store rainwater. Plastic bags and rain boots also make excellent containers. Always rinse them with the first raindrops to wash away salt from sea spray.

Food: A boat’s shadow can attract fish. To catch them, string jewelry into a lure. (Pieces from a smartphone can work too.) Shoelaces or unraveled sock threads can serve as fishing line. Save any uneaten bits for bait.

Rescue: Relax and find familiar shapes in clouds to ease boredom—and keep an eye out for planes and ships. If you spot one, use a pocket mirror or a smartphone screen to reflect sunlight. The signal can be seen up to 10 miles away on a sunny day.

For more sea-survival tips, head to the Howorths’ website, thehoworths.com.

WARNING: Use these methods as last resorts. If they don’t work, direct your complaints to ididnotsurvive@popsci.com.

Courtesy : Popular Science

Hoax CNN Article That Terrified The Public Taken Down

792px-Planetoid_crashing_into_primordial_Earth

A hoax CNN iReport which claimed that an asteroid headed towards Earth had a 50% chance of catastrophically colliding with our planet in the year 2041 has been taken down after it terrified some members of the public.

“Citizen journalism”, such as iReport, may seem a reasonable concept at first glance; however, you’d probably quickly change your mind when you find out that the articles can be uploaded unedited and unchecked for factual errors. This is a tad risky since many readers have a habit of skimming articles without thinking to check whether what is being reported is correct, so they can quickly become a nuisance.

A user named Marcus575 cottoned onto this and decided to upload a piece which went as follows:

Using their Near-Earth Object Wide-field Infrared Survey Explorer (NEOWISE), the 10-mile wide object was found approximately 51 million miles from Earth. Scientists believe that during a close encounter with Mars, the asteroid was nudged slightly off its usual orbit and may currently be on a high speed collision course with our fragile planet. The asteroid is calculated to have a potentially lethal encounter with the Earth on March 35, 2041.

Astronomers have placed the odds of an impact at 1 in 2.04, which is by far the most unprecedented risk ever faced to humanity, let alone from asteroids. Such an impact could potentially end civilization as we know it.

For those of you that missed this part, the date given was March 35. Justin Beiber and Miley Cyrus were also tagged in the piece. The article was viewed 230,000 times and shared 23,000 times over the course of 24 hours before it was taken down. This is what it looked like:

Ok, so it is a little bit funny, but it’s certainly another example of why you should read things on the internet thoroughly before reacting!

Read more at : http://www.iflscience.com/space/hoax-cnn-article-terrified-public-taken-down

Could Supermassive Black Holes At The Center Of Galaxies Be Wormholes?

750px-Wormhole

Photo credit: Alain R, via Wikimedia Commons.

A duo of theoretical physicists from Fudan University, Shanghai, has proposed a very intriguing hypothesis; supermassive black holes at the center of normal galaxies, including our own Milky Way, may not actually be black holes at all. Instead, they could be wormholes. The paper detailing their theory has been published as a preprint edition and will be soon available in General Relativity and Quantum Cosmology.

Wormholes, although not yet proven to exist, are theorized to be channels, or shortcuts, between either different parts of the universe or even two different universes in a Multiverse model. Wormholes are composed of two mouths, which could be black holes, interconnected by a throat. The possibility of their existence was even suggested by Einstein and his theory of general relativity mathematically predicts their existence.

Sagittarius A* (SgrA*) was first observed back in 1974 as an object at the center of the Milky Way that was found to be emitting radio waves. Further investigation of SgrA* revealed telltale signs that the object was a black hole, for example the behavior of nearby stars, and astronomers have been convinced of this classification ever since.

Although we cannot observe a black hole directly since light is unable to get out, they can be detected by other means. For example, observations of SgrA* reveal plasma orbiting near the event horizon. If SgrA* was a wormhole we would also expect to see orbiting plasma blobs, however, they should differ in appearance since wormholes are predicted to be smaller than supermassive black holes.

Furthermore, wormholes could help to explain the conundrum that even young galaxies are equipped with objects that are believed to be supermassive black holes. These black holes should take a considerable length of time to achieve such size; therefore, theoretically they should not and cannot exist in new galaxies, according to the authors of this paper. Wormholes on the other hand could theoretically appear relatively quickly.

The researchers believe that their theory could be put to the test in a few years when the VLTI instrument GRAVITY is added to the European Southern Observatory in Chile. One of the main objectives of GRAVITY is to discern whether the Galactic Center harbors a black hole of four million solar masses. However, it should also be able to reveal whether the wormhole prediction is correct because the orbiting plasma will look dramatically different dependent on whether the object is a wormhole or a black hole since wormholes would have much smaller photon capture spheres.

For now, we will have to wait patiently until that data is obtained. However, if these predictions are correct, they would certainly represent a major and extremely exciting discovery.

Read more at : http://www.iflscience.com/space/could-supermassive-black-holes-center-galaxies-be-wormholes

Bakteri Salmonella Dapat Digunakan Untuk Melawan Kanker

cancer9736b

Para ilmuwan menggunakan salmonella bakteri yang umumnya ditularkan melalui makanan yang menginfeksi orang untuk melawan kanker usus. Mereka percaya salmonella dapat menjadi alat yang berharga dalam perang melawan kanker pada organ sekitar usus seperti hati, limpa, dan usus besar, karena di situlah salmonella alami menginfeksi tubuh.

Para peneliti ingin ‘weaponize’ salmonella, yang memungkinkan bakteri untuk kemudian menyerang sel-sel kanker dalam lingkungan alam.
Ujian pada hewan telah menunjukkan salmonella berhasil dapat mengontrol tumor dalam usus. uji klinis Manusia sudah berjalan dan menunjukkan janji.

“Banyak bakteri dan virus – bahkan yang berbahaya – dapat digunakan untuk melawan penyakit,” kata Edward Greeno, peneliti utama pada studi klinis dan Medical Director of the Masonic Cancer Clinic. “We believe it may even be possible to use bacteria to fight cancer.” yang artinya “kami percaya percaya kemunungkinan besar bisa menggunakan bakteri untuk melawan kanker.”

Greeno’s Medical School kolega, Dan Saltzman, rekayasa genetik batch salmonella untuk melemahkan dan menambahkan Interleukin 2, atau IL-2. “Kau bisa memikirkan IL-2 sebagai anjing penjaga (dalam istilah, atau sebgai benteng pertahan) yang menyedot dan berkeliling mencari ancaman di dalam tubuh,” katanya (orang yang meneliti). Ketika ia menemukan satu, itu panggilan dalam serangan oleh sistem kekebalan tubuh. Peneliti tahu jika mereka bisa membuat IL-2 didekat tumor , itu akan mengidentifikasi sel-sel kanker sebagai ancaman dan memicu reaksi kekebalan di dekat tumor. Dari teori itulah para peneliti atau ilmuan percaya bisa melawan kanker dengan bakteri salmonella.

Courtesy : Mas Tony

Determination of Thin Layer Drying Characteristic of Globefish (Rastrelliger sp.)

La Choviya Hawa, Sumardi H. S., Sumardi H. S., Elfira Puspita Sari, Elfira Puspita Sari

Abstract

Globefish (Rastrelliger sp.) are frequently consumed in Indonesia.  The globefish can be stored for several days. One of the processes to preserve globefish is salting and drying.  The accurate prediction of the characteristics of globefish drying is important in producing high quality product. Therefore, the characteristic of globefish should be determined.  This research was aimed to determine the equilibrium moisture content (Me) and the drying coefficient (k) by using the graphic method.Thin layer drying characteristics of globefish determined at temperature ranging 45, 50, and 55°C and for relative humidity of 33, 30, and 29%, with initial moisture content between 18.026 and 56.7% wet basis. The result showed that equilibrium moisture content equation of globefish at temperature 45°C was Me = [ln(1-RH)/(-8.763.10-6xT)]1/1.653 with moisture content of 20.262% dry basis, at 50°C was Me = [ln(1-RH)/(-7.418.10-6xT)]1/1.671 with moisture content of 20.085% dry basis, and at 55°C was Me = [ln(1-RH)/(-1.084.10-5xT)]1/1.564 with moisture content of 18.580% dry basis. Drying constant was 0.1385  hour-1 for temperature of 45°C, 0.1568 hour-1 for temperature of 50°C, and 0.1568 hour-1 for temperature of 55°C.
Keyword: drying coefficient, thin layer, globefish

What Happens When Lava Meets Ice?

Pahoeoe_fountain_edit2

Our theme on IFLScience this week seems to be lava. First, we showed you what it looks like when lava meets a can of coke. Many of you were disappointed by this, so we showed you what it would look like if a person fell into a lake of lava. By far the most common question in response to these videos was, “what would happen if lava met ice?”

Ask and ye shall receive. Two years ago sculptor Bob Wysocki and geologist Jeff Karson at Syracuse University teamed up for an educational project they named “Project Lava”. One of their experiments involved pouring Basaltic lava directly on to ice sheets.

Check out here:

Courtesy : IFL Science