BEM FPIK UB Ajari Siswa SD Bahasa Inggris

Para mahasiswa mengajarkan bahasa Inggris

Para mahasiswa mengajarkan bahasa Inggris

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, mengajak siswa-siswi Taman Kanak Kanak dan Madrasah Ibtidaiyah Yayasan Al-Irsyad, Tumpang dalam kegiatan outbond dan kegiatan bakti sosial. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (16/5) di TK dan MI Yayasan Al-Irsyad, Tumpang dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Dalam kegiatan ini, perwakilan BEM FPIK memberikan bantuan berupa papan ujian dan buku tulis kepada pengurus Yayasan Al-Irsyad, Tumpang dan diterima oleh Usman sebagai pengurus yayasan. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa juga mengajak para siswa bermain bersama dan belajar bahasa Inggris.

Menurut Usman, siswa-siswi sekolah ini memiliki cita-cita dan keinginan yang kuat untuk bersekolah, namun terkendala dengan gedung dan pengajar yang kurang memadai. “Selain gedung sekolah yang tidak layak, lahan sekolah ini juga sebenarnya berada dalam sengketa, sehingga tidak dapat direnovasi”, ujarnya kepada perwakilan BEM FPIK UB. Melalui kegiatan ini, BEM FPIK UB berharap dapat membantu meringankan kesulitan para siswa-siswi dalam memahami bahasa Inggris dan menyenangkan para siswa.

Courtesy : Prasetya UB

Advertisements

Karakter Siswa Dilihat dari Posisi Tempat Duduk di Kelas

dalam-kelas

Duduk di depan, tengah atau belakang di kelas memang menjadi pilihan. Hal itu mungkin sering dianggap sepele oleh sebagian siswa. Namun, posisi ternyata menentukan prestasi. Salah satu pengaruh yang paling besar dirasakan adalah mood dan niat kita mengikuti pelajaran.

Pelajari dulu nih, peta posisi bangku berikut karakternya berikut ini:

Wilayah Depan – Ahli Strategi

Wilayah ini bisa dibilang tempat siswa yang jago berstrategi. Ada dua ahli strategi di posisi ini. Pertama, strategi untuk kebaikan. Mereka ini tampil jadi siswa yang selalu ingin fokus belajar. Karakter mereka biasanya akrab dengan guru, sering berkomunikasi dengan guru, bahkan nggak jarang jadi “asisten pribadi” yang kerap membantu guru. Berharap nilai bagus, bisa jadi salah satu tujuan mereka.

Kedua, ahli strategi yang menganut prinsip tempat berbahaya adalah tempat teraman. Nah, penganut prinsip ini adalah siswa yang sebenarnya malas belajar, tapi biar nggak ketahuan makanya merka duduk di depan. Maklum guru-guru lebih “awas” matanya merhatiin siswa yang duduk di belakang.

Wilayah Tengah – Bisa Diatur

Karakter penghuni bangku tengah ini adalah sosok yang santai dan mencari aman dari “ancaman” seperti maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal yang diberikan guru. Mereka bisa ribut di sebuah kesempatam, bisa juga sangat diam di situasi lainnya.

Bisa dibilang para penghuni “tengah” ini diisi oleh siswa yang nggak pengen terlihat menonjol. Biasanya, karakter mereka lebih santai dibanding mereka yang duduk di depan. Nggak jarang, penghuni tengah ini sebeneranya pusat dari segala “keributan” yang terjadi di dalam kelas.

Wilayah Belakang – Kumpulan Anak Kreatif

Cap yang udah kadung nempel di siswa yang duduk di belakang adalah pembuat onar, kegaduhan, perkumpulan penghuni kelas yang doyan main saat jam pelajaran. Hal ini bisa jadi karena penghuni bangku belakang jauh dari pengawasan guru di kelas. Padahal pada kenyataannya, penghuni belakang ini malah kerap mendapat perhatian para guru.

Jangan anggap mereka bodoh, para siswa yang menduduki bangku belakang ini justru terkenal lebih kreatif. Karena guru killer biasanya mengawasi mereka sangat sering. Warga belakang juga semakin kreatif mencari strategi agar “kegiatan” mereka di belakang nggak tercium guru di depan kelas.

Courtesy : Hai-Online

5 Alasan Untuk Nggak Pacaran Sama Temen Sekelas

senior-school

Diakui atau nggak, kita semua pernah suka sama salah satu teman sekelas kita. Ya kecuali kalau kamu sekolahnya cuma sendirian. Dan ketika kamu suka sama salah satu teman sekelas kamu, biasanya ada dua hal yang bisa kamu lakukan. Satu, menyatakan kalau kamu suka sama dia lalu akhirya jadian. Atau dua, tidak menyatakannya lalu jadi seorang secret admirer… hingga sekarang, atau mungkin, selamanya.

Kenapa kita pernah suka sama teman sekelas kita? Itu karena hati kita biasanya diisi oleh seseorang yang sering kita lihat. Apa yang sering mengisi mata kita, itulah yang biasanya mengisi hati kita juga.

Mungkin di antara kalian ada yang berpikir kalau pacaran sama teman sekelas itu enak. Bisa pacaran terus, di kelas bisa berduaan, dan kalian gak akan bisa dipisahkan. Oh teman-temanku tercinta, pikiran itu adalah pikiran yang salah. Biarkanlah kami memberikan alasan mengapa pacaran dengan teman sekelas itu sebaiknya jangan sampai dilakukan. Oke, mari kita mulai.

Belajar Jadi Gak Fokus

Belajar gak ada pacar aja gak fokus, gimana ada pacar?

Tugas seorang pelajar itu belajar. Kalian jangan tiru adegan di sinetron-sinetron yang pemerannya anak sekolahan. Di sinteron itu tuh, lebih banyak persoalan cintanya daripada belajarnya. Dan di sinetron itu, lebih banyak galau karena mikirin gebetan daripada galau karena mikirin PR.

Itulah kenapa kamu sebaiknya jangan pacaran sama teman sekelas. Gara-gara belajar gak fokus, nanti pelajaran jadi terbengkalai, nilai jadi jelek, muka kamu ikutan jelek, dan si pacar pun gak suka sama muka yang jelek itu. Ending-nya kebaca, abis itu kalian putus, dan nilai juga ikutan putus.

Dicie-ciein

Ini nih yang paling bikin males. Dicie-ciein di kelas. Nyamperin pacar dikit, dicie-ciein. Duduk sebelahan sama pacar, dicie-ciein. Diem-dieman sama pacar, dicie-ciein. Terus aja dicie-ciein sampe lulus UN tahun 238619469.

Setiap pasangan, mau yang pacaran sama teman sekelas atau nggak, pasti muak dicie-ciein mulu. Tapi kadang, kita benar-benar gak bisa berbuat apa-apa. Yang cie-ciein kita banyak, tapi kita sebagai korban cuma berdua sama pacar kita. Ini jelas pertarungan yang tidak adil. Semacam you and me versus the world.

Maka dari itu hindari pacaran dengan teman sekelas. Bersama, kita hindarkan diri dari cie-ciean itu.

Cepet Bosen

Pacaran sama teman sekelas itu ngebosenin banget. Yang dilihat dia lagi-dia lagi. Bajunya itu lagi-itu lagi (jangan-jangan dia seumur hidup bajunya itu mulu).  Kalau ngelihat dia, mukanya gitu lagi-gitu lagi, berubah kek jadi kayak artis luar negeri!

Dunia ini luas, jangan batasi cintamu hanya dengan seukuran ruang kelas. Dunia ini luas, masih banyak tempat romantis yang bisa dijadikan tempat jatuh cinta. Kalau cintamu hanya sekadar di ruang kelas, jangan-jangan cintamu juga cuma sekecil ruangan itu.

Tapi sebetulnya ada tips sih biar kamu gak bosen sama pacarmu yang sekelas itu. Caranya adalah: cobalah sekali-sekali pindah kelas. Misalnya pacarmu naik kelas, kamu tinggal kelas aja. Atau biar lebih gak bosen lagi, coba pindah sekolah.

Mungkin Itu Cuma Cinlok

Bahayanya sebuah cinta lokasi adalah kamu harus menerima kenyataan bahwa pacar kamu lebih cinta sama lokasi dari pada cinta sama kamu. Kalau kamu sama pacar kamu cinta lokasi di kelas, maka pacarmu bukan suka sama kamu, tapi sama kelas. Kelasnya disayang-sayang, dipeluk-peluk, dicium-cium. Daripada disebut cinta lokasi, cinta kayak gitu lebih pantas disebut cinta pada bangunan.

Tapi serius, cinta pada teman sekelas itu mungkin saja cuma cinta lokasi. Ketika kalian keluar kelas, mungkin tidak ada lagi cinta di antara kalian. Ketika kalian keluar kelas, mungkin saja salah satu dari kalian malah punya cinta lain di luar kelas. Dekat di kelas namun jauh saat di luar kelas.

Daripada cinlok, lebih baik cindun. Cinta dunia. Jadi selama masih di dunia, kita masih saling mencintai pasangan kita.

Kalo Putus, Susah Move On

Keadaan terburuk dari pacaran sama teman sekelas adalah ini: saat akhirnya kalian putus, move on-nya bakal susah banget. Move on dari mantan yang teman sekelas itu level-nya hard banget, kalau diibaratin keripik pedas, ini tuh ini level 10. 10 juta. Susah lah pokoknya.

Pas putus, pacar kamu bilang gini, “Udah jangan sedih, kalau jodoh kita pasti ketemu lagi.” Eh besoknya beneran ketemu lagi. Di kelas. Kan kalau kayak gitu susah banget move on-nya, soalnya ngiranya kan jodoh. Niatnya ngelupain, eh si mantan nongol mulu di kelas. Belum lagi ntar tiba-tiba ada kejadian kamu disatu-kelompokkan sama si mantan. Betapa beratnya move on itu.

Kurang lebih itulah alasan kenapa kamu tidak perlu pacaran sama teman sekelas. Tapi pacaran sama teman sekelas itu penuh pro dan kontra sih. siapa yang pro dan siapa yang kontra nih? Boleh lhooo dibagi pengalaman-pengalamannya…

Courtesy : nyunyu