Cara Mudah Menjadi Orang Sukses dalam Bidang Apapun

kunci-sukses

Anda ingin sukses? Nah bila anda ingin sukses ada baiknya anda membaca postingan Tourworldinfo Community kali ini. Setiap orang pastinya ingin sukses begitu juga dengan saya sendiri sebagai admin Tourworldinfo Community. Nah sekarang pertanyaannya bagimana cara supaya sukses itu? apa tips rahasia orang sukses itu? Well, semua pertanyaan itu bisa anda dapatkan di tulisan ini.

Cara mudah menjadi orang sukses memang tidak seperti membalikan telapak tangan akan tetapi biargimanapun semua itu bisa kita peroleh dengan gampang, mudah dan cepat asal kita “YAKIN”. Dari berbagai penelusuran di situs internet, ternyata sudah banyak sekali tulisan-tulisan yang mengacu terhadap informasi yang ingin anda dapatkan, yaitu tentang cara menjadi orang sukses.

Agar teman-teman sekalian juga bisa tau cara apa saja yang sebenarnya bisa dilakukan agar kita menjadi orang sukses, maka berikut ini adalah cara menjadi orang sukses selengkapnya:

1. Mau Belajar

Orang sukses adalah pelajar seumur hidup. Mereka menyadari, pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas, artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah dan menggunkan internet merupakan bentuk pendidikan pula.

2. Percaya Diri

Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai ketrampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa ketrampilan ini memberi nilai kepada ketrampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.

3. Berpandangan Positif

Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain. Mereka percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi.

4. Berani Mengambil Resiko

Orang sukses berani mengambil resiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman, dan mau terus mengambil resiko untuk meraih sukses.

5. Mampu Menikmati Pekerjaan

Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan, mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan, mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah di pekerjaan, lapangan tennis atau lapangan golf.

6. Mampu Memotivasi Diri

Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ada yang dengan cara melakukan beberapa pekerjaan setiap hari pada bidang berbeda.

7. Menyelesaikan Tugas Sepenuh Hati

Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-tengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finish. Mereka memanfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.

Nah, Itulah beberapa poin penting yang saya dapatkan ketika anda bertanya tentang bagimana cara menjadi orang sukses. Semoga poin-poin diatas dapat diterapkan dalam hidup kita masing-masing, agar kesuksesan akan segera menghampiri kehidupan yang sedang kita jalani. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda yang membacanya.

Courtesy : Hasbi Htc

Advertisements

Semoga Esok adalah Hari yang Cerah

Mornings

Orang Jepang pernah berkata jangan kamu mencari pekerjaan tapi buatlah pekerjaan itu yang perlu kita tanamkan pada bangsa kita. Tulisan ini saya dedikasikan kepada teman, sahabat kakak-kakak yang gagal dalam menembus seleksi CPNS di sejumlah daerah di Indonesia janganlah kita semua berkecil hati jika anda kecewa itu hal yang wajar dan manusiawi karena jika anda mengaku tidak kecewa berarti tidak ada motivasi dalam diri untuk mengikuti seleksi tersebut.

Tapi akankah dengan usia kita yang relatif kurang dari 35 tahun ( karena memang syarat maksimal mengikuti CPNS adalah 35 tahun ) hanya mau menyesal dan selesai sampai di situ kegagalan adalah sukses yang tertunda begitu kata orang bijak tapi kalau gagal kok berkali kali giman nih? Mungkin itu yang sering terbesit di pikiran kita, sehingga sering timbul perasaan iri dengki kepada mereka yang sukses ya kan? Jangan hilangkan perasaan iri tapi kita arahkan perasaan yang katanya jelek itu menjadi sikap yang konstruktif bukan destruktif gimana caranya? Muncul pertanyaan baru lagi kan nah kita harus tetap iri secara positif artinya wah kawan kita bisa sukses tuh berarti saya juga harus bisa sukses karena Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu tanpa kegunaan virus yang mikroskopik saja punya fungsi apalagi kita yang besarnya ribuan bahkan jutaan kali virus.

Jadi kalau kita merasa mungkin usaha kita di saat ini masih belum optimal berarti harus ada perbaikan baik dari usaha kita yang berbentuk fisik maupun non fisik contoh tindakan fisik belajar lebih giat dengan berlatih menjalin hubungn yang baik dengan semua orang karena kan sejago jagonya orang dari 200 soal pasti ada 1 atau 2 soal yang dirasa sulit kalau kita baik dengan orang ya kemungkinan orang lain juga baik ke kita, kegiatan non fisik beribadah karena sekuat apapun kita berusaha semua keputusan ada di tangan pemilik pelangi ya walaupun wajib bagi kita untuk berusaha.

big_nightfall2

Nah lain lagi kalau kita sudah merasa itu bukan jalan kita untuk meraih sukses karena jalan seseorang untuk meraih sukses itu berbeda beda kan ini bukan putus asa tapi kita oportunis terhadap peluang jadi jika kita merasa peluang disebuah kejadian terlalu sulit kita harus melihat peluang lain yang lebih besar lalu lakukan yang semaksimal mungkin yang kita bisa lakukan. Contoh jika CPNS mungkin dari 50 slot akan diperebutka 1000 orang berarti peluangnya 1:200 SALAH karena tidak ada namanya sistem seperti itu jadi peluang yang benar itu 1:1000 untuk masing masing peserta jadi semua harus saling mengalahkan ya nggak.

Saat ini kita geser fokus ke mereka yang merasa kalau ada peluang yang lebih besar di tempat lain contoh kita berwirausaha karena (maaf kalau rasis) tapi warga negara kita yang beretnis Tionghoa sangat minim yang berkecimpung di birokrasi toh sampai tua tanpa gaji dan tanpa pensiun mereka dapat tetap eksis di masyarakat, hal ini yang musti kita tanamkan jangan pernah malu untuk berjalan dari bawah karena Sebuah tangga jika diawali dari bawah arahnya akan keatas tapi, jika tangga itu diawali dari atas arahnya akan kebawah.

Sebetulnya nilai nilai pendidikan kita memang mengajarkan kita untuk menjadi pegawai bukan menjadi pengusaha maka dari itu banyak dari kita yang mengalami hambatan saat terjun ke dalamnya kurangnya kreatifitas karena memang selama ini kita dididik untuk tidak kreatif tapi untuk menyesuaikan dengan keinginan pengajar alias BELAJAR MENJADI PENJILAT. Memang selain kreatifitas daya tahan kita terhadap cobaan itu juga menentukan tingkat dan waktu kesuksesan kita.

Kadang orang kita takut terjun ke suatu bidang karena kita belum punya ilmunya halah sebetulnya itu cuma alasan klasik yang disampaikan kita untuk menutupi rasa takut kita untuk keluar dari titik nyaman toh orang yang sukses tidak selamanya menguasai teknik untuk memproduksi sesuatu karena permasalahan di tingkat UMKM ( kenapa saya berbicara UMKM karena ya jangan mimpilah kalau kita yang awalnya saja berharap menjadi pegawai negeri memiliki uang yang berjumlah angka nol lebih dari 7 digit ya kan, uang dari mana itu hahahahahah) adalah kita mampu untuk membuat sesuatu tapi kita kurang mampu memasarkan hasil karya kita entah karena kualitas atau karena kita kurang bisa menembak segment pasar yang sesuai dengan hasil karya kita tadi nah untuk mengatasinya berarti kita harus menjadi sales ya memang ada 2 pilihan kita menjadi sales aktif dan sales pasif .

220x194x75x0

Sales aktif kita menjemput pelanggan yang kiranya berpotensi, sales pasif kita harus memposisikan produk kita dengan strategis sehingga orang akan secara sengaja atau tidak akan melihatnya. Selain itu mungkin kita kurang jeli dalam melihat peluang usaha. Jenis usaha yang menurut saya tidak akan lekang oleh waktu adalah food and baverage, tekstil dengan harga dan kulitas non premium, bisnis ide kreatif dalam hal ini mencakup percetakan dan desain. Alasanya food and beverage setiap hari orang butuh makan minum. Tekstil non premium ya karena lebih dari separuh orang kita ekonominya tengah tengah hampir terengah engah.

Jadi harga yang murah dengan kualitas yang standar akan lebih diminati karena dengan harga yang terjangkau walaupun life time tidak panjang mereka justru akan terlihat eksis karena jumlah yang dimiliki semakin banyak dan otomatis sering berganti. Bisnis ide dan iklan karena pada prinsipnya semua produk itu butuh iklan untuk mengenalkan dirinya ke khlayak selain itu sih masih ada banyak kok tapi itu semua kan tinggal feel kita (meminjam istilah pebisnis handal sebaik apapun kalau nggak dapet feel bakalan bubar deh) OK selamat mencoba kawan apapun pilihannya lakukan semaksimal Tuhan tidak akan membiarkan umatnya bekerja keras tanpa membuahkan hasil.

Lowongan Agent of Change, Urgent !

Agents

Tak perlu berpikir yang tinggi-tinggi bahwa agent of change itu haruslah mereka yang berjasa mengubah sejarah bangsa, atau para tokoh yang punya nama besar, atau pemuda yang turun ke jalan berdemo untuk mengubah orde. Sebetulnya masing-masing dari kita juga agent of change loh. Tinggal bagaimana kita menempatkan, mau jadi negative agent or positive?

Sadarkah kalau kita agent of change?

Seorang Ibu rumah tangga adalah agent of change bagi anak-anaknya. Beliaulah contoh bagi anak-anaknya. Ibu jugalah yang berperan sebagai pengajar pertama bagi manusia baru.

Seorang guru adalah agent of change bagi muridnya. Seorang sahabat adalah agent of change bagi sobatnya. Dan kita sendiri adalah agent of change bagi teman-teman dan follower kita.

Ini beberapa hal kecil yang mungkin tanpa kita sadari dapat mempengaruhi orang lain:

  • Ikut menyebarkan berita buruk di twitter atau facebook yang belum tentu kebenarannya. Nah, kalo belum tentu bener gini kan namanya fitnah, sama dengan kita menyebarkan virus kebencian. Kenapa tidak menyebarkan knowledge atau inspirasi saja?
  • Sibuk mengatur etika menggunakan twitter, tetapi content status updatesnya sendiri tidak disensor dan menyebabkan pengaruh buruk bagi banyak orang. Lebih berbahaya yang mana? Apa yang kita ucapkan atau kita lakukan bisa berpengaruh ke orang lain. Apa yang kita tulis, berpengaruh ke pembaca. Jadi, pernahkah kamu memikirkan akibat dari status update kita di twitter dan facebook buat follower kita? Tidak masalah kalau follower kita sudah dewasa cara berpikirnya sehingga bisa memilah mana yang baik mana yang salah. Tetapi bagaimana dengan follower kita yang masih mudah dipengaruhi? Urgent! Dibutuhkan agent of change yang bijak! Daripada tweetwar (perang di twitter) mending kita bikin gerakan positif di twitter, yuk.
  • Kalau kita blogger, salah satu cara yang bisa kita lakukan ya menulis artikel yang bermanfaat bagi banyak orang. Entah itu info yang positif, info yang meluruskan berita yang salah, ilmu pengetahuan, atau inspirasi. Kalau kita menebarkan kebaikan, pasti kebaikan akan kembali ke diri kita kok.
  • Di pekerjaan masing-masing pun juga bisa jadi agent of change loh! Misalnya kita orang kreatif, akan lebih baik kalau ide kita bisa bermanfaat bagi banyak orang, menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan dengan cara kreatif, atau mengedukasi dengan cara yang fun! Dengan kata lain, jangan membuat ide yang dapat meresahkan masyarakat. Sebagai orang creative tetap harus sensitif dengan lingkungan ya!Dengan adanya social media, makin simple kok untuk jadi agent of change.

Dengan adanya social media, satu suara user berpengaruh bagi user yang lain.

Nyaris dunia saya ada di gadget atau laptop karena saya blogger dan public relations yang memang lingkup komunikasinya online offline. Lewat blog saya mencoba menulis sudut pandang saya, sekaligus tanggung jawab moral sebagai agent of change. Paling tidak, dari tulisan, saya bisa sedikit menginspirasi teman-teman muda yang belum percaya diri, masih mencari passionnya, belum mantap atau masih bingung dengan karirnya, dan juga menulis untuk mereka yang masih bangga dengan Indonesia. Selain juga edukasi tentang public relations, social media, dan tentunya personal branding.

Senang kalau ada yang cerita bahwa sedikit ilmu yang saya miliki bisa menginspirasi dan mengubah orang lain ke arah yang lebih baik. Kerjasama antara otak dan sentuhan jari kita ternyata bisa kontribusi mengubah anak muda Indonesia! Keren ga tuh?

So.. bisa donk kita ubah diri kita jadi agent of change dengan cara yang simple? Kontribusi simple yang bisa ngubah teman-teman kita ke arah yang lebih baik, itu sudah cukup kok. Tapi semuanya harus dimulai dari mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik duluu \(^-^)/

If you wanna make the world a better place, then take a look at your self, and make a change!

Courtesy : Friends of Acer

Biografi Rabi’ah Al-Adawiyah

Tokoh sufi perempuan yang terkenal yaitu Rabiah Al-Adawiyah. Nama lengkapnya yaitu Ummu al-Khair bin Isma’il Al-Adawiyah Al-Qisysyiyah. Beliau diberi nama Rabi’ah karena merupakan anak perempuan keempat dari empat bersaudara. Rabiah dilahirkan dari pasangan suami istri yang hidup miskin bahkan Rabi’ah pun dilahirkan tanpa adanya lampu penerangan. Rabi’ah lahir di kota Basrah, Iraq pada tahun 94 H. Beliau poun wafat di kota Basrah, Iraq tahun 185 H.
    Namun ketika ayahnya meninggal Rabi’ah Al-Adawiyah terpaksa harus terpisah dari keluarganya karena kehidupan ekonomi yang semakin menghimpit. Karena kehidupan yang miskin itulah, sehingga memaksa Rabi’ah untuk hidup sebagai hamba sahaya dengan berbagai macam penderitaan yang dialami silih berganti. Disamping sebagai hamba sahaya, beliau mempunyai kepandaian memainkan alat musik.
Kehidupan Rabi’ah Al-Adawiyah sebagai hamba sahaya yang selalu dikekang dan diperas oleh majikannya, membuat Rabi’ah selalu berdo’a kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT. Dengan penderitaan yang dialami ini, Rabi’ah tidak menyia-nyiakan waktu luangnya untuk berdo’a baik itu pagi, siang dan malam hari.
Rabi’ah Al-Adawiyah selalu memanjatkan do’a, setiap hari amalan ibadah yang dilakukan Rabi’ah semakin meningkat seperti dengan memperbanyak taubat, dzikir, puasa serta menjalankan shalat siang dan malam.Beliau melaksanakan shalat sampai meneteskan air mata, karena merasa rindu kepada Allah SWT. Lama-kelamaan saat majikannya mendengar rintihan Rabiah Al-Adawiyah  saat berdoa, majikannya melihat ada cahaya yang menerangi bilik Rabi’ah saat beliau berdoa di malam hari. Hal ini yang membuat majikannya merasa bahwa Rabi’ah adalah kekasih Allah. Dari kejadian itu Rabi’ah dibebaskan majikannya bahkan diberi pilihan, yaitu mendapatkan semua harta majikannya atau kembali ke kota kelahirannya. Karena Rabi’ah hidup untuk menjauh dari kekayaan dan kesenangan dunia maka beliau memilih untuk kembali ke kotanya untuk menjadi sufi dan mendekatkan diri dengan Allah.
Aliran sufi yang diajarkan Rabi’ah Al-Adawiyah yaitu pelopor tasawuf mahabbah, yaitu penyerahan diri total kepada “kekasih” (Allah). Hakekat tasawufnya adalah habbul-ilāh (mencintai Allah SWT). Ibadah yang ia lakukan bukan terdorong oleh rasa takut akan siksa neraka atau rasa penuh harap akan pahala atau surga, melainkan semata-mata terdorong oleh rasa rindu pada Tuhan untuk menyelami keindahan–Nya yang azali. Mahabbah Rabiah merupakan versi baru dalam masalah ubudiyah kedekatan pada Tuhan. Perkembangan ajarannya selama kurun waktu 713-801 M.
Rabiah adalah seorang zahidah sejati. Memeluk erat kemiskinan demi cintanya pada Allah. Lebih memilih hidup dalam kesederhanaan. Definisi cinta menurut Rabiah adalah cinta seorang hamba kepada Allah Tuhannya. Ia mengajarakan bahwa yang pertama, cinta itu harus menutup yang lain, selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta, yaitu bahwa seorang sufi harus memalingkan punggungnya dari masalah dunia serta segala daya tariknya. Sedangkan yang kedua, ia mengajarkan bahwa cinta tersebut yang langsung ditujukan kepada Allah dan mengesampingkan yang lainnya, harus tidak ada pamrih sama sekali. Ia harus tidak mengharapkan balasan apa-apa. Dengan Cinta yang demikian itu, setelah melewati tahap-tahap sebelumnya, seorang sufi mampu meraih ma’rifat sufistik dari “hati yang telah dipenuhi oleh rahmat-Nya”. Pengetahuan itu datang langsung sebagai pemberian dari Allah dan dari ma’rifat inilah akan mendahului perenungan terhadap Esensi Allah tanpa hijab. Rabiah merupakan orang pertama yang membawa ajaran cinta sebagai sumber keberagamaan dalam sejarah tradisi sufi Islam.
Ada beberapa pokok pikiran pada diri Rabi’ah, diantaranya adalah:
hidup atas dasar zuhud, dan mengisinya dengan selalu beribadah kepada Allah SWT serta menjadikan Allah tumpuan cintanya, sebagaimana yang beliau katakan,
“Aku tinggalkan cintanya Laila dan Su’da mengasing diri
Dan kembali bersama rumahku yang pertama. Dengan berbagai kerinduan mengimbauku, Tempat-tempat kerinduan cinta abadi”.
Selain itu cinta Rabi’ah Al-Adawiyah adalah cinta abadi kepada Tuhan yang melebihi segala yang ada, cinta abadi yang tidak takut pada apapun walau pada neraka sekalipun. pernyataan Rabi’ah Al-Adawiyah yang terkenal ialah,
“Kujadikan Engkau teman percakapan hatiku, Tubuh kasarku biar bercakap dengan insani. Jasadku biar bercengkrama dengan tulangku, Isi hati hanyalah tetap pada-Mu jua…”
Ibadah yang Rabi’ah Al-Adawiyah tegakkan baik siang dan malam, semata-mata karena cintanya kepada Allah SWT. Sebagaimana pernyataannya,
“Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukanlah aku kedalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap mendapatkan surga, berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain, sebab bagiku Engkau saja sudah cukup”

Feel

Orang bilang If there is a will there is a way.

Orang lain juga bilang There is miracle, when you believe.
Kalau Saudara, bilang apa?

 

 

Dalam kehidupan kita, keajaiban itu bisa datang darimana saja. Jalan akan Allah berikan jika Allah sudah berkehendak. Maka, tidak ada pilihan lain bagi kita ketika mempunyai kebutuhan kecuali meminta hanya kepada Sang Pembuka jalan.
Sayangnya, seringkali kita tidak terlatih dengan kondisi-kondisi tauhid, kondisi mengesakan Allah. Kondisi benar-benar hanya bergantung pada Allah. Kita terbiasa bergantung sama duit, sama keadaan, sama manusia, bahkan sama ikhtiar. Tidak terbiasa bergantung sama Allah.

Dalam urusan bisnis misalnya, seringkali kita menganggap bisnis itu susah kalau kita tidak punya modal, tidak punya jaringan. Sadar atau tidak, itu berarti kita sedang menuhankan modal atau jaringan. Padahal, ada jalur-jalur quantum untuk menjadi pengusaha, yakni jalurnya Allah. Itulah jalur-jalur yang ditempuh melalui doa, dhuha, tahajjud dan sedekah.

Latih. Latih. Latih. Di saat ada banyak potensi di sekeliling kita yang menjadi Tuhan, menjadi Allah, latih diri. Tiadakan yang lain. Hingga benar-benar hanya ada Allah Tuhan kita. Feel … feel … feel the experience of believing.
If there is doa, there is a way …

Jika ada doa, disitu InsyaAllah akan ada jalan …

***

Dapatkan kupasan tuntas tentang feel the experience of believing di buku FEEL yang ditulis oleh Ustadz Yusuf Mansur. Sebuah buku yang akan membawa pembaca ke persoalan bisnis dan solusi permasalahan dan hajat. Kaya akan pengajaran luhur soal kebersatuan, keberjamaahan dan SENSASI dan KEYAKINAN.
Buku ini memuat cuplikan kisah-kisah menarik seorang Yusuf Mansur. Perjalanan membangun dan membagi mimpinya. Kisah tersebut disusun dalam isi buka yang mengupas antara lain:

  • Membangun Ekonomi Menyelamatkan Aqidah
  • Business is Easy
  • Semangat Dagang
  • Dream PRAY Action
  • ‘Alaikum bil Jama’i
  • Koboy
  • Beli Ulang Indonesia
  • Redistribusi Aset
  • Hotel Haji dan Umrah
  • Patungan Aset
  • Kun the Winner Wa laa Takun the Looser

Feel it … Believe it …

Courtesy: yusuf mansur

Don’t Let Retirement Stress Marriage: Plan to be Busy

couple retirement

Author and former financial planner Frank Maselli tells a story of a man who retired and went home to spend his days with his wife. It didn’t take long for him to become a major intrusion in his wife’s world. He told her the way she did everything was wrong, even the garden she had tended for 25 years.

“She had to kick him out of the house,” he said. “She made him get involved with a charity group and start going to the gym.”

It’s a huge adjustment to shift from spending two or three hours a night to spending all day together, says author and psychologist Robert Bornstein. “It happens all at once. It would be nice to go from full-time to half-time to quarter-time, but that’s not how it works.”

“Take the normal stress of a transition into retirement,” says Maselli, “and throw in the fact that your wife can’t stand seeing you all day.”

People are working with financial planners to make sure that they will have enough money to retire. But what they are not doing, retirement experts say, is preparing psychologically for retirement. And as a result, three big problems are popping up.

First, retirees without any kind of a plan are just going home to their spouses with nothing to do and causing stress in their marriages. “We are the first generation who is going to live 30 years in retirement,” says Maselli, who is based in Raleigh, N.C. “We are not prepared financially or emotionally. It will be a major issue.”

Second, people who have been working for 30 or 35 years are suddenly home with absolutely nothing to do. “You lose a ready-made social network,” says Bornstein. “We don’t think about it that much. Much of your daily social contact comes from the office. When you are no longer going into the office, it’s not uncommon for people to discover that they have few or no friends.”

Third, says Bornstein, people underestimate the loss of status and self-esteem that comes from working. “So many people identify with their career or the company they own,” he says. “Their profession and their identity are intertwined. The two are one and the same, So when they retire and separate, it is a loss from an emotional standpoint.”

All three issues could be contributing to a record divorce rate among Baby Boomers. But the resulting stress can easily be avoided if people retire with a plan, retirement experts say. And foremost in that plan, set a schedule and make plans to do something … anything. Just do not sit around with the TV remote.

“Most couples don’t prepare well psychologically for retirement because they are so focused on financial and housing issues, which makes sense,” Bornstein says.

Joe Heider, managing principal for the Ohio region for Rehmann Financial, says the issue reminds him of the Chevy Chase vacation movies. “It’s kind of like being on a permanent family vacation. There is a lot of stress being with each other 24/7. All those things that were annoying suddenly became difficult — if they don’t have hobbies.”

“A big depression sets in with a lot of guys,” Maselli says. “It’s a major problem. You’ve worked for years. They give you a gold watch. Then what? What happens to that emotional intensity? It goes into me arranging my wife’s spice drawer.”

Heider says it can be a dangerous time. “I have seen clients who have developed serious drinking problems because they’re bored,” says Heider. “Happy hour used to start at 5:30; now it starts at noon. Retirement can be a wonderful thing. But depression, drinking, drug issues — they are all symptomatic of people bored and their lives have lost meaning for them.”

Financial planner Brad Zucker, president of Safe Money Advisors in Las Vegas, says before people retire they need to find their passions. “Retirement could last 25 years,” he says. “You want to be certain you have some kinds of interests and passions to make it through those years.” Zucker says he has one client who turned his love of baseball into becoming an assistant coach for a high school baseball team — at 71.

Maselli teaches a program he calls “Never Retire,” which deals with the psychological transition into retirement. “We actively tell people and teach people how to restructure their lives — not to retire,” he says. “Start a business. Don’t think about slowing down.

“You want to relax,” he says. “That goes away in a week.” He says retirees should think about mentoring, teaching, board memberships … anything to keep busy. And make those necessary contacts before you retire.

Heider says retirees should also consider volunteering as an option. “Volunteer your expertise to whatever you were doing,” he says. “Spend time mentoring a young entrepreneur. It gives them something meaningful to do with their time.”

Retiree George Milonas, 84, of Las Vegas says he gets up every morning on schedule. “It’s like going to a job,” he says. His passions are sports, horse racing and playing the slots. And that works for him because he has the funds to do that, he says.

Janet Taylor, psychologist and a consultant with AARP’s Life Reimagined program, says the success and well-being of couples in retirement depends on their pre-retirement planning. “Plan early; communicate expectations; and recognize what the existing demands are,” she says.

“Initially, retirement might involve understanding and accepting changes in your personal privacy,” Taylor says. “After a few months there is some normalcy and some understanding. But give yourself time to adjust to that.”

But start planning early. “Rule No. 1 is to start thinking about this now,” says Maselli. “What are you going to do? What kinds of things will you be doing together? How much time can you stand each other together? How will you structure your day so that you are out of the house?”

And how did it end for the husband who got kicked out of the house?

“He learned to stay active, and his wife learned to be patient with him,” Maselli said. “The charity work led to more community involvement. But the gym thing never caught on.”

 

Courtesy: USAtoday