Inilah Alasan Google Tidak Merekrut Lulusan Perguruan Tinggi Terbaik

google-id

Lulusan perguruan tinggi top nampaknya saat ini bukan pilihan utama Google untuk menjadikannya karyawan, sehingga membuka banyak kesempatan bagi semua orang untuk bekerja di perusahaan paling populer tersebut saat ini.

Mengapa Google tidak menghiraukan lulusan universitas top? Tentu saja ada alasan yang kuat mengapa mereka berbuat demikian. Dan inilah alasan tersebut yang telah mereka analisis dalam perkembangan perusahaannya dari tahun ke tahun:

Kepada media New York Time, HRD dari Google, Laszlo Bock menyatakan mengenai alasan tidak merekrut orang-orang cerdas jebolan universitas terbaik:

Graduates of top schools can lack “intellectual humility” atau Lulusan dari sekolah top memiliki kekurangan dalam kerendahan hati terhadap intelektualitas.

Hal tersebut didukung data bahwa bagi mereka yang lulus dari universitas top, biasanya selalu berhasil dalam segala hal terutama dalam akademis dan sangat jarang mengalami kegagalan sehingga tak jarang dari mereka bukan termasuk tipe pemimpin dalam sebuah bisnis.

Google menyatakan bahwa mereka mencari tipe orang yang memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan merangkul ide-ide orang lain meskipun ide dirinya lebih baik.

Bahkan Bock mengungkapkan “Tanpa kerendahan hati anda tidak dapat belajar”, orang pintar sukses jarang mengalami kegagalan, sehingga mereka tidak belajar dari kegagalan tersebut.

Sadar atau tidak kita sadari, kebanyakan orang sukses dalam berbisnis adalah justru kadang mereka yang tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Bock pun menyatakan bahwa, banyak sekolah yang tidak bisa memberikan janji masa depan mereka, yang ada hanyalah tumpukan utang untuk biaya sekolah dan menjadi masalah remaja saat ini di Amerika.

Sudah tidak aneh bahwa banyak dari kita yang ber IQ tinggi tidak serta merta menjadi seorang yang jauh lebih sukses dari mereka yang memiliki IQ lebih rendah. Dan itupula yang dipaparkan Bock, “Kemampuan belajar lebih penting dibandingkan IQ”.

Berhasil dalam bidang akademis bukan jaminan memperoleh suatu pekerjaan atau menjadi orang sukses, namun jiwa pembelajar dari setiap masalah dan kegagalan jauh lebih berharga. Bock melanjutkan, bahwa dalam setiap pekerjaan kemampuan kognitif memang perlu dan nomor satu namun kognitif umum bukan IQ.

Kemampuan untuk belajar, memproses dengan cepat, bekerja sama dalam sebuah tim, serta mengumpulkan dan memproses informasi, kemampuan untuk maju dan memimpin yang dibutuhkan saat ini.

Courtesy : Jogja Review

Advertisements

Beginilah Cara Google Bikin Karyawan Betah

google-id

Perusahaan mana yang tidak ingin karyawannya setia, produktif, dan betah bekerja di kantor? Karena itulah, perusahaan yang baik dan sehat pasti berusaha menjaga iklim kerja dan semangat para karyawannya dengan memberikan tunjangan serta fasilitas terbaik bagi mereka.

Hal ini pun dilakukan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang berbasis di Silicon Valley, California, AS. Salah satunya adalah Google. Selain dikenal baik hati kepada para karyawannya, Google juga menjadi salah satu perusahaan teknologi yang paling diincar oleh para pencari kerja. Betapa tidak? Tunjangan-tunjangan serta fasilitas yang diberikan oleh perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin ini mampu menjamin para karyawannya hidup senang, tenang, dan berkecukupan. Tampaknya tak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan oleh para Googler (karyawan Google), kecuali pekerjaan mereka.

Apa saja fasilitas yang bisa dinikmati oleh para Googler?

Google menyediakan transportasi gratis bagi para Googler yang tinggal di sekitar Mountain View, dekat dengan lokasi Googleplex (kantor Google). Google juga menyediakan fasilitas pangkas rambut gratis di kantor bagi para karyawannya yang sibuk. Mereka tak perlu pergi ke salon sendiri dan antre untuk memangkas rambut atau poninya yang sudah mulai panjang.

Agar para Googler bisa benar-benar beristirahat di akhir pekan, Google menyediakan fasilitas laundry dan layanan dry cleaning di kantornya. Jadi, bukan hal aneh jika setiap akhir pekan para karyawan membawa pakaian kotornya ke Googleplex.

Di Googleplex, karyawan juga bisa bersantai sambil bermain ping pong, biliar, dan foosball alias table football. Meja-meja permainan ini terletak di beberapa tempat dalam gedung. Bagi para Googler yang hobi “berolahraga jempol”, Google juga menyediakan perlengkapan video game.

Kalau mau, karyawan Google boleh membawa hewan peliharaannya ke kantor. Akan tetapi, yang satu ini rasanya sulit jika ingin sering dilakukan karena bekerja sambil mengawasi hewan peliharaan bukan hal yang mudah dilakukan. Untuk menyambut akhir pekan, setiap Jumat, para Googler biasa berkumpul bersama sambil minum bir dan anggur gratis.

Seru, tetapi itu belum apa-apa. Masih banyak tunjangan dan fasilitas yang dapat dinikmati oleh para Googler. Daftarnya dilansir oleh Business Insider dan pasti membuat Anda bermimpi untuk bekerja di sana.

Makanan dan minuman gratis

Makan siang gratis di kantor karyawan mungkin hal yang sudah biasa di banyak kantor. Nah, di Googleplex, selain makan siang, sarapan dan makan malam pun selalu tersedia bagi karyawan. Ini karena lokasi kantor Google agak jauh dari restoran. Fasilitas yang satu ini membuat para Googler bisa menghemat waktu dan uang mereka.

Googleplex juga dilengkapi dapur-dapur kecil yang menyediakan kopi, snack, dan minuman bagi para karyawan. Dapur-dapur itu ditempatkan berdekatan dengan ruang kerja karyawan agar Googler tak perlu pergi jauh dari mejanya untuk mengambil makanan. Intinya, perut para penghuni Googleplex dijamin selalu kenyang.

Jaminan kesehatan

Agar karyawannya tetap bugar, Google menyediakan gym dan kolam renang di lingkungan kantornya. Tak tanggung-tanggung, kolam renang itu dijaga oleh petugas khusus untuk memastikan keselamatan para penggunanya. Karyawan Google yang tidak enak badan atau terluka saat bekerja juga bisa membuat janji dengan dokter di Googleplex.

Meskipun bekerja di Google terlihat sangat menyenangkan, para karyawan juga punya tanggung jawab yang besar dan dituntut untuk berkinerja baik. Karena itu, pekerjaan juga bisa membuat mereka pusing. Namun, ketika sukses menyelesaikan suatu proyek dengan baik, mereka bisa menikmati bonus pijat selama 1 jam dari therapist yang disewa Google.

Aturan 80/20

Aturan Google yang satu ini sangat terkenal. Google menuntut para karyawannya untuk menghabiskan 80 persen waktu kerja di kantor untuk mengerjakan pekerjaan mereka, dan meluangkan 20 persen sisanya untuk mengerjakan proyek khusus sesuai passion mereka. Artinya, dalam waktu kerja standar selama seminggu, ada satu hari penuh yang dapat mereka gunakan untuk mengerjakan proyek di luar pekerjaan utama mereka.

Google banyak mengembangkan teknologi masa depan di Google Labs. Menurut Google, kebanyakan teknologi canggih itu justru berawal dari proyek-proyek “sampingan” para karyawan dalam program 20 persen itu.

Bertemu banyak orang pintar

Karyawan Google adalah orang-orang yang pintar. Di Googleplex, mereka juga terbiasa bertemu dan bekerja dengan orang-orang pintar lainnya, termasuk Larry Page dan Sergey Brin. Googler juga sudah terbiasa bertemu dan bekerja dengan para pemimpin, pemikir, dan seleb di industri teknologi.

Meskipun para karyawannya sudah pintar, Google tetap mendorong mereka untuk selalu belajar. Salah satu buktinya, pintu kamar mandi dan bagian atas urinoir dalam toilet kantor mereka dihiasi berbagai puzzle dan tips seputar coding. Rupanya para Googler juga percaya bahwa toilet merupakan salah satu tempat terbaik untuk menemukan inspirasi.

TechStop

TechStop adalah unit tech-support yang dijaga oleh para spesialis TI terbaik di Googleplex. Di sana, para karyawan yang mendapat kesulitan berhubungan dengan hardware dan software bisa meminta pertolongan. TechStop buka 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Urusan TI sepele sekalipun akan dilayani di tempat ini, termasuk ketika karyawan lupa membawa charger laptop-nya ke kantor.

Cuti melahirkan dan punya anak

Pepatah “banyak anak banyak rezeki” tampaknya berlaku bagi para Googler. Sementara kantor-kantor lain hanya memberikan cuti melahirkan kepada para karyawan perempuan, Google juga bermurah hati memberikan cuti “menyambut anak” bagi para karyawan laki-lakinya.

Google memberikan hadiah “libur” selama 6 minggu, dan tetap digaji, kepada Googler laki-laki yang istrinya melahirkan. Sementara itu, kepada Googler perempuan yang baru melahirkan, Google memberikan libur selama 18 minggu setelah sang anak lahir.

Bukan itu saja. Setelah kelahiran sang anak, karyawan juga mendapatkan bonus untuk meringankan biaya-biaya membeli kebutuhan bayi. Setelah sang ibu kembali bekerja, dia bisa membawa bayinya ke kantor dan menitipkannya di fasilitas Day Care yang disediakan di Googleplex.

Tunjangan kematian

Google menjamin kesejahteraan karyawannya, bahkan sampai mereka meninggal dunia. Ketika ada Googler yang meninggal dunia, perusahaan akan mencairkan asuransi jiwa karyawan dan memberikannya kepada keluarga yang ditinggalkan. Google juga akan membayarkan setengah dari gaji karyawan tersebut kepada suami/istrinya yang ditinggalkan hingga 10 tahun ke depan. Selain itu, Google juga akan memberikan tunjangan sebesar 1.000 dollar AS yang diberikan setiap bulan kepada anak-anak almarhum.

Jadi, siapa yang ingin bekerja di Googleplex?

Courtesy : KOMPAS

Mark Zuckerberg "Drop Out" dan Sukses, Perlu Ditiru ?

Mark-Zuckerberg780x390

Drop out alias berhenti kuliah. Banyak tokoh entrepreneur besar melakukan ini. Pada tahun 1974, pendiri Microsoft Corp., Bill Gates, berhenti kuliah untuk merintis bisnisnya yang kala itu masih berupa startup (perusahaan rintisan digital).

Begitu pula dengan pendiri Virgin Group, Richard Branson. Pria yang terkenal dengan jiwa petualangnya itu berhenti sekolah pada tahun 1966, saat usianya masih 16 tahun, demi merintis bisnis majalah pertamanya, Student Venture.

“Tadinya saya ingin menjadi editor atau jurnalis. Saya tidak sungguh-sungguh tertarik untuk menjadi seorang entrepreneur, tetapi saya sadar saya harus menjadi entrepreneur agar majalah saya bisa bertahan,” kata Branson.

Selain Gates dan Branson, masih ada pendiri Oracle, Larry Ellison; pendiri Dell Computers Inc, Michael Dell; pendiri Apple Inc., Steve Jobs; dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Mereka berhenti kuliah untuk fokus merintis usaha.

Cerita tentang mereka membuktikan bahwa pendidikan bukanlah faktor utama yang menentukan kesuksesan para entrepreneur. Masih ada faktor-faktor lainnya. Tetapi, ini bukan berarti pula bahwa pendidikan bukan hal penting.

Menurut daftar 400 orang terkaya di Amerika Serikat, Forbes 400, yang dirilis pada 2012, terdapat “hanya” 63 entrepreneur yang drop out dari kampusnya. Mereka termasuk Bill Gates serta 2 co-founder Facebook, Mark Zuckerberg dan Dustin Moskovitz. Jumlah itu hanyalah 15% dari jumlah miliarder yang ada dalam daftar. Sisanya lebih besar, yakni sebanyak 85%, menyelesaikan kuliah mereka.

Dalam daftar itu, terdapat 29 orang miliarder yang meraih gelar Master of Science. Di antara mereka adalah investor Warren Buffett; co-founder LinkedIn, Reid Hoffman; serta 2 co-founder Google, Sergey Brin dan Larry Page.

Pada dasarnya, yang membuat mereka menjadi orang besar adalah passion dan tekad mereka untuk melihat ide-idenya sukses dieksekusi. Mereka tidak takut gagal dan ingin melakukan hal-hal lebih, yang berbeda dari orang lain.

Seperti kata CEO dan co-founder Google, Larry Page, “Apa yang menarik dari bekerja jika hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengalahkan perusahaan lain yang melakukan hal yang sama dengan kita?”

Seseorang bisa saja sukses tanpa pendidikan formal. Tetapi, pelajaran di kampus atau sekolah bisnis tentunya akan memperkaya para mahasiswa dan calon entrepreneur dengan ilmu dan pengetahuan soal bisnis dan marketing.

Selain itu, ilmu dan gelar sarjana, apalagi yang didapat dari kampus ternama, bisa juga berperan menambah rasa percaya diri seseorang. Satu hal lagi yang tak kalah penting—belajar di perguruan tinggi juga dapat membuka network.

Sementara teori-teori dan simulasi bisnis yang diberikan ketika kuliah menjadi bekal yang berguna bagi entrepreneur atau calon entrepreneur, pada akhirnya pengalaman di dunia bisnis yang sesungguhnyalah yang akan menjadi guru yang paling hebat. Kesuksesan mereka ditentukan bagaimana mereka menghadapi tantangan dengan kreatif dan inovatif, bagaimana mereka bertahan dan berusaha bangkit ketika gagal.

Drop out demi merintis startup belum tentu keputusan yang bijak—kecuali jika bisnis yang dirintis tengah berkembang pesat, atau si pendiri punya jaringan yang luas, atau dia adalah orang jenius, atau sangat beruntung. Tetapi dalam bisnis, entrepreneur tidak mungkin mengandalkan keberuntungan saja, bukan?

Courtesy : KOMPAS

3 Nasihat Bisnis dari CEO Google

Larry

Google adalah salah satu contoh perusahaan yang sukses berkat adanya inovasi yang terus-menerus. Berawal dari sebuah mesin pencari, perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin itu kini telah menciptakan beragam aplikasi dan layanan serta merajai Internet.

Ada beberapa kebiasaan unik yang dikembangkan Google untuk memupuk budaya inovasi dan kreativitas dalam perusahaannya. Salah satunya adalah pertemuan mingguan. Setiap karyawan Google dari seluruh dunia bebas memberikan pertanyaan kepada para eksekutif Google, baik secara langsung maupun melalui email.

Para karyawan juga dapat memberikan kritik ataupun mengemukakan ide-ide mereka kepada para pemimpin perusahaan.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Wired.com, CEO Google, Larry Page, menyampaikan beberapa tips sukses perusahaannya dalam berbisnis. Berikut adalah beberapa nasihatnya yang sangat menarik.

1. Lakukan hal-hal yang “gila”

Banyak perusahaan besar menjadi lengah dan lupa berinovasi. Hal itu dihindari oleh Google dengan memupuk budaya inovasi di lingkungan perusahaannya. Setiap karyawan di perusahaan ini dituntut untuk “Think Big”, berpikir dan melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Sejak kecil, Page bermimpi untuk menjadi seorang penemu. Dia tidak hanya ingin bisa menciptakan produk yang hebat, tetapi juga ingin mengubah dunia. Mimpi itu tetap hidup hingga kini dan dia wujudkan bersama Google.

Bagi Page, kepuasan adalah ketika dia dan timnya bisa mengembangkan inovasi 10 kali lipat dari yang telah mereka kembangkan sebelumnya. Jadi, tak heran jika inovasi menjadi inti dari bisnis Google. Lihat saja Gmail, layanan email yang menawarkan kapasitas penyimpanan 100 kali lebih besar ketimbang kapasitas yang diberikan oleh layanan-layanan email lainnya.

Google juga telah menciptakan layanan penerjemah berbagai bahasa serta melahirkan Google Maps dan Google Drive, layanan penyimpanan data berbasis teknologi cloud computing. Selain itu, masih ada YouTube, Android, dan Chrome yang menarik dan telah digunakan banyak orang.

Google bahkan dikabarkan membangun sebuah proyek dan lab khusus bernama Google X. Berbagai fasilitas dalam lab Google X dibuat untuk mendukung riset Google untuk menciptakan beragam teknologi masa depan, seperti mobil yang bisa berjalan sendiri dan kacamata berbasis teknologi Augmented Reality.

“Jika tidak melakukan hal-hal gila, kamu melakukan hal-hal yang salah,” kata Page. Sebagai CEO, dia selalu mendorong timnya untuk berinovasi.

2. Inovasi harus diikuti dengan komersialisasi

Inovasi yang sukses harus diikuti dengan komersialisasi. Page mencontohkan Xerox PARC, salah satu anak perusahaan Xerox Corp, yang didirikan pada tahun 1970. Xerox PARC terkenal dengan berbagai inovasinya di bidang teknologi dan hardware. Beberapa inovasinya memegang peranan penting dalam dunia komputasi modern, di antaranya, ethernet, graphical user interface (GUI), dan teknologi laser printing.

“Namun, mereka tidak fokus pada komersialisasi,” kata Larry. Hal itulah yang membuat Xerox PARC gagal.

Larry memberikan contoh lain, yakni Tesla. Tesla adalah salah satu perusahaan yang dia kagumi, yang mengembangkan mobil inovatif. Namun, perusahaan yang didirikan oleh Nikola Tesla itu menghabiskan 99 persen tenaganya untuk mengembangkan produknya agar disukai banyak orang. Hal itulah yang menyebabkan Tesla akhirnya jatuh.

Xerox PARC dan Tesla gagal karena hanya fokus pada inovasi. Setiap perusahaan membutuhkan dua hal untuk sukses, yakni inovasi dan komersialisasi.

3. Jangan fokus pada persaingan

Google berbeda dari perusahaan-perusahaan teknologi lainnya. Google fokus pada pengembangan produk-produk dan layanannya, bukan fokus pada kompetisi.

“Apa yang menarik dari bekerja jika hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengalahkan perusahaan lain yang melakukan hal yang sama dengan kita? Itulah yang membuat banyak perusahaan jatuh secara perlahan. Mereka cenderung melakukan hal yang sama dengan yang pernah mereka lakukan dan membuat beberapa perubahan kecil,” kata Page.

Menurut Page, memang wajar jika banyak orang ingin mengerjakan hal-hal yang mereka yakin tidak akan gagal. Namun, untuk sukses, perusahaan teknologi perlu membuat suatu perubahan yang besar.

Ketika merilis Gmail, misalnya, Google masih menjadi sekadar perusahaan mesin pencari. Menciptakan layanan email berbasis web merupakan suatu lompatan besar bagi Google, apalagi Gmail berani menyediakan kapasitas penyimpanan email yang sangat besar jika dibandingkan penyedia layanan serupa pada saat itu.

Pada saat mengembangkan Gmail, sudah ada beberapa perusahaan lain yang memiliki mesin pencari. Gmail tidak akan ada jika Google hanya fokus untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan itu. Google memilih untuk fokus mengembangkan produk-produk dan layanannya.

Courtesy : KOMPAS

Ingin Dilirik Pemodal? Ide Keren Saja Tak Cukup

Ide cool

Pertumbuhan bisnis digital di Indonesia, diikuti oleh bertambahnya jumlah perusahaan pemodal ventura (venture capital).

Hingga pertengahan 2012, tercatat ada belasan perusahaan pemodal ventura khusus teknologi dari dalam maupun luar negeri. Mereka “berburu” perusahaan rintisan (startup) digital yang punya ide dan produk keren. Namun, ide dan produk saja tak cukup menggoda perusahaan pemodal untuk memberikan investasinya. Mereka juga mempertimbangkan kredibilitas si pendiri dan resiko terbesar yang akan ia alami.

Perusahaan pemodal ventura Ideosource, misalnya, enggan berinvestasi jika startup itu hanya mengandalkan ide.

Direktur Ideosource Andi S. Boediman mengatakan, pihaknya lebih tertarik dengan ide yang telah terlaksana dan menjadi produk. Apalagi, jika produk itu dinilai punya daya tarik dan diakui oleh sekelompok kecil orang.

“Daya tarik dan pengakuan itu penting. Kalau bisnisnya e-commerce, ya mereka sudah melakukan transaksi. Kalau bisnis media, sudah ada trafik. Kalau konten, sudah mendapat banyak unduhan,” jelasnya pertengahan September lalu.

Tak sekedar produk, Andi juga memandang penting kapabilitas pendiri dan tim startup itu, apakah mereka punya kesadaran bisnis dan bisa membaca pasar?

Hal senada diungkapkan Anthonny Liem, CEO dari MerahPutih Inkubator. “Yang pertama kali kita lihat adalah si pendiri dan timnya. Karena, yang mengeksekusinya itu kan orangnya. Produknya bisa dibentuk,” tegas Anthonny saat dihubungi lewat telepon.

MerahPutih mulai berinvestasi pada Agustus 2010. Hingga saat ini ada 7 startup yang mendapat dana segar dari MerahPutih. Perusahaan yang berada di bawah payung Djarum ini, fokus pada empat segmen bisnis digital, yakni social platform, e-commerce, aplikasi mobile, dan game.

Ia mengenaskan, MerahPutih bukan pemodal ventura yang berinvestasi di banyak startup, agar risikonya terbagi. Besar harapan Anthonny agar startup tersebut dapat menghasilkan uang dan produknya dipakai banyak orang. Karena itulah, kemampuan berwirausaha dan manajemen para pendiri sangat dipertimbangkan.

Para investor berharap nilai startup itu bisa naik berkali-kali lipat, setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. Ketika startup itu diberi investasi lagi oleh pemodal ventura lain, maka nilainya juga ikut naik. Penetrasi pengguna internet dan perangkat mobile di Indonesia yang terus meningkat, juga membawa peluang besar bagi industri digital.

Courtesy : KOMPAS

Cara Merakit Antena TV UHF Sederhana

Antena

Anda bisa membuat dengan bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar rumah, mulai dari tali jemuran, tutup panci, atau plat nomer motor yang sudah tidak dipakai, Kalau dibandingan jaman dulu, sekitar tahun 1990 an, harga antena TV UHF sangat mahal, bagaimana nggak, gaji Pegawai Negeri Sipil kurang lebih 200 an ribu perak, dan harga antena TV UHF bisa mencapai 500 ribuan perak, Nah dari situ, para pecinta TV saluran frekuensi.  UHF yang mungkin tidak semuanya berkantong lebih, akhirnya mencoba mengakali dari bahan -bahan yang ada disekelilingnya.

Alhasil para ibu rumah tangga kebingungan waktu mau jemur pakaian, si bokap yang mencak-mencak karena plat nomor motornya hilang. weh weh jangan sampai seperti itu kali he he he, Nah jadilah pemuda yang kreatif bukan kereatif, jadinya nyusahin orang lain, Kenapa tidak jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain sekali-kali nah berikut Cara Membuat Antena TV UHF Sederhana Mari lihat Tutorial Cara Membuat Antena TV UHF Sederhana dibawah ini :

A. Pertama siapkan alat dan bahannya seperti dibawah ini :

Alat :

  1. Obeng
  2. Bor
  3. Gergaji Besi
  4. Penggaris Meteran

Bahan :

  1. Batang Aluminium bundar ± 6 meter
  2. Aluminium kotak
  3. Box Antena
  4. Kabel RG-6 ( Coaxial ) 5 meter
  5. Mur/Baut

B. Carilah frekuensi Tv yang diingikan kemudian carilah lamdanya dengan rumus lamda = C/F . Dimana C merupakan kecepatan cahaya ( 3 x 10^8 ) dan F adalah frekuensi channel Tv tadi yang dicari dalam satuan MHz. Contoh beberapa Frekuensi Saluran TV di Indonesia

  1. SCTV = 3756 MHz
  2. TVRI = 3765 MHz
  3. RCTI = 3774 MHz
  4. TV One = 3786 MHz
  5. Global TV = 3934 MHz
  6. INDOSIAR = 4000 MHz
  7. METRO TV = 4055 MHz
  8. TRANS 7 = 3990 MHz
  9. ANTV = 4014 MHz
  10. TRANS TV = 4086 MHz

Ingat :

Anda boleh menggunakan satu lamda, setengah lamda atau bahkan seperempat lamda. Itu semua tergantung dari selera Anda, namun itu juga dapat mempengaruhi kualitas dari gambar yang diterima. Dimana semakin besar lamda yang digunakan maka hadil yang didapat juga akan maksimal. Namun tidak menutup kemungkinan juga yang kecil lamdanya hasilnya nanti tidak bagus.

C. Setelah itu potonglah batang aluminium bundar sesuai dengan panjang lamda yang telah dihitung untuk setiap directory. Kemudian nanti directorynya diberikan lubang kecil ditengah untuk tempat mur/baut.

D. Ambillah aluminium kotak tadi kemudian lubangi aluminium kotak itu masing-masing jarak setiap directory 5cm. Lalu bor lah ketika telah ditandai.

E. Setelah aluminium kotak tadi telah selesai di bor dan semua directory telah jadi maka masukkanlah satu persatu directory ke dalam aluminium kotak tadi. Lalu ambillah mur/baut, dan obeng untuk mengencangkannya.

F. Setelah semua directory telah terpasang dengan baik pada aluminium kotak tadi, maka kita tinggal memasang box antena nya saja lalu kencangkan dengan obeng.

G. Akhirnya jadilah antena Tv sederhana seperti gambar di bawah ini.

Membuat Antena TV UHF Sederhana

Gambar Antena TV UHF

Demikianlah postingan saya mengenai Cara Membuat Antena TV UHF Sederhana semoga saja sahabat semuanya bisa mempraktekkannya. Selamat mencoba yah, memang awalnya ketika Anda ingin mecoba sesuatu itu akan terasa sulit namun pada akhirnya setelah dijalani ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.

Courtesy : Hasbi Htc